Hukum Vs. Disiplin dalam Pola Asuh Anak

Anak-anak pasti pernah nakal atau berbuat salah. Sekali dua kali, bunda masih sanggup bersabar. Namun pengulangan terus menerus pun membuat bunda agak emosional. Bunda pun menghukum si kecil dengan pukul. Apakah menghukum seperti ini termasuk pola asuh anak yang baik? Simak penjelasan berikut ini.

Bedakan hukuman dan disiplin

Hukuman bertujuan untuk mengajarkan kepada si kecil kalau mereka akan mendapatkan konsekuensi negatif bila mereka melanggar peraturan. Hukuman tidak selalu mengajarkan alasan peraturan diterapkan untuk pertama kalinya. Hukuman juga tidak mengajarkan kenapa peraturan ini penting atau bagaimana si kecil bisa bertindak sesuai dengan peraturan yang berlaku di rumah. Hukuman tidak mengajarkan ke si kecil akan tanggung jawab atau berempati akan pikiran, kebutuhan dan pengalaman yang dirasakan orang lain. Disiplin di lain pihak selalu memberikan sebuah pelajaran yang akan membantu si kecil mengerti sikap yang layak agar mereka bisa diterima di masyarakat. Pola asuh yang memasukkan disiplin kepada si kecil akan mengajarkan mereka bagaimana menjadi diri mereka yang lebih baik.

Efek dari hukuman

Hukuman yang sering diterapkan orang tua di zaman dahulu hanya akan efektif mengurangi sikap buruk anak ketika mereka diancami. Anak-anak akan takut kalau barang-barang mereka diambil, hak-hak mereka akan diambil, kegemaran mereka akan digunakan untuk melawan mereka, rasa aman mereka hilang dan karakter mreka. Anak-anak tidak perlu selalu memahami kenapa tindakan-tindakan atau sikap mereka salah atau tindakan mereka akan memberikan dampak negatif kepada yang lain. Di sisi lain, efek disiplin pada anak biasa menambahkan rasa tanggung jawab, percaya diri dan kemampuan untuk membedakan sikap dan tindakan yang pantas dari tidak pantas.

Cara mendidik anak lewat hukuman atau tindakan yang menyebabkan si kecil terasa sakit ketika berbuat salah memang sangat menggoda bagi orang tua. Apalagi hukuman ini akan membuat si kecil merasa “bersalah” atau “malu” sebagai respon dari kesalahan-kesalahan mereka. Namun hukuman tidak mengajarkan anak selain persetujuan ayah bunda untuk melukai orang lain. Seharusnya, orang tua haruslah berusaha mendisiplinkan anak agar mereka bisa membantu diri mereka menjadi pribadi yang lebih baik dan mengubah kondisi mereka. Disiplin yang tepat akan membuat si kecil tumbuh menjadi anak yang bahagia, sehat dan produktif tidak hanya di dalam keluarga namun juga lingkungan.

Cara mendisplinkan anak yang tepat:

  1. Menunggu. Si kecil bisa berbuat nakal kapan saja misalkan pulang telat melewati batas aturan waktu di rumah. Misalkan pulang tengah malam. Bunda jangan langsung marah tetapi tunggu sampai emosi bunda stabil. Tidur dan bicarakan kepada dia keesokan harinya.
  2. Bicarakan: Ketika bunda berbicara, duduklah bersama dan katakan sesuatu seperti “kamu tidak pulang tepat waktu seperti yang seharusnya. Ceritakan apa yang telah terjadi.” Anak-anak mungkin berkata, “temanku marah ketika aku mau pulang pagian.” Jangan langsung terima alasannya. Namun bunda bisa menanantntang jawabannya dengan, “bila temanmu marah, apakah hal ini berarti kamu boleh pulang lewat batas waktu yang telah ditentukan?”

  3. Tantang: Sementara bunda menantang pilihan si kecil yang salah, bunda bisa bertanya berbagai variasi pertanyaan seperti, “bagaimana kamu bisa mengambil tindakan berbeda?” Misalkan, “apa yang kamu akan lakukan bila temanmu marah ketika kamu hendak pulang tepat waktu?” Mereka mungkin jawab, “aku bisa mengabari bunda bila sesuatu telath terjadi.” Bunda bisa menjawab, “baiklah. Bila hal itu terjadi kembali, kabarin aku seperti yang kamu katakan dan bunda akan menjemputmu. Kamu tidak bisa melewati batas waktu yang telah ditetapkan. Jadi tanggung jawabmu adalah pulang tepat waktu.”

  4. Konsekuensi: Setelah berbicara dengan si kecil, ini adalah waktu paling tepat untuk memberikan konsekuensi kepada mereka. James Lehman merekomendasi kalau konsekuesi yang tepat berkaitan dengan tindakan salah yang dia lakukan agar dia bisa mengambil pilihan yang lebih baik. Setelah itu bunda bisa memberikan cara mendapatkan hak-haknya kembali. Contoh, “karena kamu telat pulang rumah maka kamu tidak bisa pergi bersama teman-teman minggu ini. Minggu depan, jam pulang akan dipercepat 30 menit hingga kamu bisa membuktikan kamu bisa pulang tepat waktu.” Ketika si kecil pulang tepat waktu, dia bisa kembali mendapatkan jam pulang sebelumnya. Konsekuensi ini akan membuat si kecil memiliki sikap yang bagus ketika dia mendapatkan kembali haknya.

Bunda sudah mengetahui bahaya hukuman dan bagaimana memiliki pola asuh anak yang baik dalam disiplinkan anak. Semoga bermanfaat informasinya.

 

Advertisements

Gagal Melakukan Pola Asuh Anak Yang Baik? Bunda Tidak Perlu Cemas

Setiap ibu ingin memberikan pola asuh anak yang baik pada anak-anaknya. Kasih sayang bunda pada si kecil ditunjukkan dengan memilih melakukan hal yang bunda tahu benar. Bunda memberikan makanan bernutrisi, mencari tahu cara menyembuhkan bayi yang sakit, memberikan sekolah terbaik dan merawat mereka tanpa mengharapkan imbalan. Sungguh mulia hati seorang ibu.

Namun sebaik-baiknya bunda, bunda bisa saja melakukan kesalahan dalam pengasuhan. Bunda mungkin tidak melakukan pola asuh demokratis atau protektif, Banyak faktor-faktor yang mempengaruhi pengasuhan dalam keluarga. Misalkan pengalaman masa kecil bunda, pendidikan, kepribadian, lingkungan dsb. Namun bunda tidak perlu merasa bersalah. Kadangkala akibat kesalahan tidaklah selalu seburuk yang bunda bayangkan. Inilah 10 alasan kenapa bunda tidak perlu cemas.

  1. Tidak ada manusia yang sempurna

Bunda perlu menghadapi fakta. Sekalipun bunda memiliki intensi yang paling suci, perencanaan pola asuh yang matang tetapi segala sesuatu bisa saja terjadi. Kita semua tahu tidak ada yang sempurna ketika berbicara perjalanan hidup. Dengan pengertian seperti ini, kenapa kita berasumsi kalau menjadi orang tua tidak akan salah?

  1. Orang tua lain juga melakukan kesalahan yang sama persis

Kesalahan yang pernah bunda lakukan, sadarilah, banyak orang tua juga melakukan kesalahan yang sama. Bunda tidak sendirian. Untuk lebih meyakinkan, bunda bisa mencari tahu di perkumpulan ibu-ibu atau mesin pencarian mengenai perasaan bunda.

  1. Berasumsi bunda tidak akan melakukan kesalahan hanya akan menimbulkan rasa bersalah ketika bunda melakukannya

Rasa bersalah itu nyata dan kejam. Jika bunda merasa bersalah atas sesuatu yang bunda pernah lakukan, hal itu akan berefek ke si kecil. Efek itu tidak bisa dihindari dan kami percaya rasa bersalah akan semakin meningkat ketika bunda meletakkan banyak ekspektasi terhadap diri sendiri. Santai bunda. Percayalah, bunda melakukan sesuatu yang luar biasa sekalipun bunda tidak merasa demikian.

  1. Membuat kesalahan tidak membuat bunda orang tua yang buruk, namun orang tua yang normal

Tahukah bunda, orang tua terburuk adalah orang tua yang mengabaikan anaknya. Orang tua yang menyiksa si kecil. Dan tahukah bunda apa yang tidak membuat bunda orang tua yang jahat? Membiarkan si kecil nonton film selama 6 jam karena bunda perlu membersihkan rumah atau kerja. Atau memesan junk food untuk makan malam. Atau melupakan kebutuhan mereka. Kalau bunda merasa bersalah akan semua ini, kabar gembira, bunda adalah orang tua yang keceh.

  1. Bagian dari kehidupan

Banyaknya faktor-faktor yang mempengaruhi pola asuh dalam keluarga meninggalkan cerita horor yang orang tua tidak percaya bisa terjadi. Seperti bunda lupa memasang seat belt si kecil ketika berkendara. Atau si kecil terjatuh dari tempat tidur ketika sedang mengganti popok dan bunda harus membawa ke UGD namun si kecil ternyata baik-baik saja. Nah bunda perlu sadar, tidak ada orang tua yang ingin anaknya mengalami kejadian seperti di atas namun si kecil berhasil bertahan hidup dan dalam kondisi baik-baik saja.

  1. Apa yang bunda lihat sebagai “kesalahan” bisa saja baik untuk si kecil

Bunda mungkin sering memberikan makanan dari warung atau apapun yang tinggal dilahap. Awalnya bunda mungkin merasa bersalah, tetapi kenyataannya bisa jadi cara ini mempermudah si kecil yang suka milih-milih makanan untuk suka makan. Memang tidak ideal dan tidak semua keluarga cocok dengan ide seperti ini, namun bunda tidak perlu stress memasak untuk si kecil terus menerus.

  1. “Hal baik bagi si kecil” bisa jadi adalah sebuah kesalahan

Kadangkala kita tanpa sengaja mengabaikan ketertarikan si kecil dengan alasan tidak ingin membebaninya atau belum waktunya. Namun pengabaiannya itu ternyata membuat dia telat berrkembang. Andai saja… Ok. Hentikan berandai.

  1. Buang-buang waktu

Cemas setelah melakukan kesalahan sangat membuang waktu padahal bunda perlu menggunakan waktu untuk mengasuh anak dengan baik.

  1. Anak-anakmu mungkin tidak ingat

Bunda mungkin stress mengingat kesalahan yang bunda lakukan. Namun si kecil kadang kala sudah tidak mengingatnya. Bunda menganalisa segala kesalahan yang bunda telah lakukan. Si kecil hanya hidup bebas dari segala beban kesalahan dia yang bikin bunda marah, dan memiliki hidup yang menyenangkan.

  1. Bila bunda merasa bersalah berarti bunda itu ibu yang baik

Bila bunda merasa bersalah atas kegagalan melakukan pola asuh anak yang baik, bunda, bunda sudah menjadi orang tua yang baik. Hal ini berarti bunda peduli dan selalu ingin membuat diri bunda menjadi lebih baik. Jadi semangat ya bunda dalam mengasuh si kecil.

Pola Asuh Anak Yang Baik Wajib Bunda Ketahui

Setiap orang tentu ingin yang terbaik bagi anak-anaknya. Mereka pun terus menerus belajar tentang pola asuh anak yang baik. Baik dari bertanya ke orang tua atau mertua, mengikuti seminar, membaca buku dan masih banyak lagi. Apalah artinya kesusahan belajar ini bila bunda bisa melihat pertumbuhan si kecil berjalan dengan baik. Mari kita mempelajari lebih yuk pola asuh anak yang bunda bisa praktekkan.

Faktor Faktor Yang Mempengaruhi Pola Asuh Anak Usia Dini

  1. Kepribadian

Setiap anak memiliki kepribadian yang unik. Saat mengasuh anak, orang tua perlu mengenal si kecil dan mengerti cara mengkomunikasikan dengan tepat sesuai dengan usia dan kemampuan mencerna si kecil. Hubungan yang baik juga memberi menambah kesuburan dalam memberikan arahan ke si kecil. Apabila si kecil tampak tidak berminat dengan arahan orang tua, mungkin bisa karena mereka tidak mengerti dan bisa jadi cara penyampaian yang terlalu keras.

  1. Pengalaman Orang Tua

Pepatah mengatakan “buah jatuh tidak jauh dari pohonnya” dan pernyataan ini tidak luput terhadap pola asuh. Mungkin bunda bisa menelusuri kembali pola asuh orang tua bunda karena biasanya tanpa sadar bunda akan mengikuti pola asuh mereka. Buatlah daftar hal yang baik dan kurang tepat dari pola asuh orang tua, serta tidak lupa untuk mengingatkan diri sendiri bila tindakan buruk yang sama hampir terulang.

  1. Pendidikan

Pengalaman bisa dikalahkan dengan pendidikan. Pendidikan artinya informasi yang didapat oleh orang tua dengan sengaja agar dia bisa mengubah cara berpikir. Hasil dari cara berpikir akan mengubah pola asuh orang tua terhadap si kecil. Baik dari segi pendekatan, perawatan dan masih banyak lagi. Good job buat bunda yang terus menerus belajar!

  1. Nilai-nilai agama

Semakin taqwa orang tua, nilai-nilai agama pun menjadi pengaruh yang sangat besar dalam hidup mereka. Agama tentu saja penting karena agama mengajarkan hal-hal yang baik untuk dilakukan si kecil dalam meresponi sekitarnya seperti kebajikan, sopan dan juga toleransi. Jadi tidak ada salahnya bunda memperdalam ilmu agama untuk dipraktekkan dan mengajar ke si kecil.

  1. Jumlah Anak

Banyaknya anak yang dimiliki bunda akan mempengaruhi perhatian bunda ke mereka. Kadangkala bunda juga bisa bersikap tidak adil antara anak yang satu dengan anak yang lain sehingga pola asuh bunda tidak lagi konsisten. Jadi dua anak cukup ya bunda.

Faktor-faktor yang mempengaruhi pola asuh anak usia dini tentu akan menghasil berbagai pola asuh seperti contoh di bawah ini:

  1. Pola asuh otoriter

Pola asuh otoriter adalah pola asuh dimana perintah orang tua adalah segalanya. Bunda biasanya sangat disiplin dan tidak menolerir kesalahan si kecil. Bunda juga tidak mendengarkan alasan-alasan yang si kecil kemukakan. Anak-anak yang dibesarkan dengan pola asuh ini cenderung depresi.

  1. Pola asuh permisif

Bila bunda terlalu sering meng-iya kan segala keinginan si kecil, bunda mungkin termasuk di dalam pola asuh permisif. Tidak ada salahnya bunda menyetujui keinginan si kecil, namun bila keinginan itu tidak baik, bunda kudu tegas. Sekalipun si kecil pada awalnya bakal teriak-teriak dan nangis-nangis di depan umum. Soalnya kalau dibiarkan, si kecil akan menjadi pribadi yang liar dan tidak menghormati orang tua dan aturan. “Peraturan tidak diciptakan untuk dilawan loh.”

  1. Pola asuh overprotektif

Bunda yang sering melarang anak eksplorasi dengan alasan takut termasuk dalam pola asuh overprotektif. Bunda tidak ingin membiarkan si kecil mengalami sakit, luka dan bahkan ikut campur ketika si kecil mengalami masalah dengan teman sebayanya. Pola asuh ini akan menyebabkan si kecil tidak produktif dan berkeinginan mencapai sesuatu.

  1. Pola asuh otoritatif / demokrasi

Pola asuh anak yang baik ini adalah pola asuh yang memberikan kesempatan kepada anak untuk eksplorasi dengan pengawasan dan batasan-batasan yang jelas. Hubungan orang tua juga baik karena orang tua selalu bersikap mau mendengarkan ide dan pendapat sekalipun keputusan terakhir di tangan orang tua seusai diskusi.

Inilah Alasan Bahaya Pola Didik Protektif Berlebihan

Anak adalah titipin Yang Maha Kuasa jadi rasanya wajar saja kalau si kecil dilindungi. Namun kalau bunda menerapkan pola didik protektif yang berlebihan, malah bisa jadi bumerang loh buat bunda dan masa depan si kecil. Biar tambah ngerti bahayanya, mari simak penjelasan lebih lanjut ya bunda.

Pola asuh anak yang baik harusnya tidak melarang si kecil melakukan sesuatu karena rasa takut. Misalkan bunda tidak ingin si kecil bermain di tanah karena takut kotor dan sakit. Bunda tidak mau si kecil main sepeda karena takut jatuh. Bunda tidak mau si kecil berenang karena si kecil pernah nyaris tenggelam. Bunda juga sering menyelesaikan masalah buat si kecil. Rasa takut dan cemas yang berlebihan ini perlu bunda sadari apakah ada pada diri bunda. Bunda bisa menanyakan ke pasangan, kerabat atau sahabat untuk membantu memantau bunda.

Bahaya anak yang dilindungi berlebihan:

  1. Dia menjadi anak yang penakut dan tidak percaya diri

Anak menjadi takut karena melihat respon orangnya yang takut. Keterlibatan orang tua di dalam setiap kegiatan yang dilakukan si kecil membuat dia hanya bayang-bayang orang tua. Akibat dia takut melakukan sesuatu tanpa orang tuanya. Lebih buruk lagi, pola asuh seperti ini berdampak terus hingga anak beranjak dewasa. Dia jadi tidak percaya diri, takut mengambil risiko dan tidak memiliki inisiatif. Bunda bisa melihat betapa tidak nyamannya ketika bunda bertemu orang seperti ini di tim kerja bunda dan mempengaruhi kinerja bunda.

  1. Tidak bisa menyelesaikannya sendiri

Pola didik protektif menurut Lauren Feiden seorang psikolog spesialis bidang hubungan orang tua dan anak menyatakan pola didik ini adalah suatu masalah yang dapat membuat si kecil ketergantungan dan tidak berani menghadapi masalah yang dibuatnya sendiri. Hal ini terjadi orang tua terlalu banyak ikut campur dalam setiap tantangan dan si kecil tidak diberi kesempatan untuk berpikir dan mencari jalan keluar sendiri. Akibatnya dia akan malas berpikir dan selalu bergantung pada orang lain atau pihak otoritas untuk menyelesaikan masalah dia. Berabe juga yak kalau kebawa hingga dewasa.

  1. Gampang berbohong

Terlalu banyak kekangan akan mendorong si kecil untuk berbohong dan membangkang diam-diam. Orang tua yang kurang realistis tidak memberikan ruang gerak bagi si kecil untuk mengembangkan diri. Dan bila si kecil melakukan kesalahan atau melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan orang tua, maka dia akan memilih berbohong untuk menghindari hukuman.

  1. Stress dan mudah cemas

Tingkatan stress dan cemas semakin tinggi dewasa ini. Selain lingkungan, salah satu faktor penyebabnya adalah pola didik anak di mana orang tua secara berlebihan melakukan pengawasan terhadap kegiatan akademis maupun non akademis anak. Sekalipun si kecil tidak melakukan kesalahan, namun pengawasan yang ketat bisa menyebabkan si kecil merasa cemas dan takut melakukan kesalahan.

Lalu bagaimana cara mengatasinya? Bunda perlu memberikan batasan dan juga kebebasan kepada si kecil dengan seimbang.

  1. Dia bisa diminta untuk pergi ke sekolah sendiri baik dengan transportasi umum ataupun jalan kaki (tergantung jarak). Bunda bisa mengikutinya untuk seminggu pertama.
  2. Bunda mengajak si kecil berpikir namun tidak memberikan jawaban ketika si kecil sedang dalam masalah. Sekalipun jawabannya lambat, bunda perlu bersabar
  3. Bunda perlu menjelaskan kalau kegagalan adalah hal yang wajar, dihadapi dan dijadikan pembelajaran untuk kemudian hari
  4. Membangun komunikasi yang baik dengan mendengarkan cerita anak
  5. Mendorong si kecil melakukan hal-hal positif yang disukai dan mengembangkan potensinya
  6. Bersikap tegas ketika si kecil melewati batas-batas yang sudah ditetapkan
  7. Yang terpenting adalah percayalah pada anak. Anak yang dipercaya justru semakin percaya diri dalam mengambil keputusan
  8. Memberikan rasa aman kepada anak agar dia bisa bercerita atau meminta nasehat kepada bunda

Ketika bunda mengubah pola didik protektif bunda dan melakukan ke 8 poin di atas, niscaya perubahan cepat atau lambat akan terjadi pada si kecil.

 

Pola Asuh Otoritatif: Pola Asuh Terbaik Yang Bunda Bisa Berikan

Ayah bunda ingin yang terbaik bagi anak dan terdengarlah sebuah istilah pola asuh otoritatif. Pola asuh anak yang baik satu ini memang terkenal bagus dan kaya akan manfaat dibanding jenis yang lain. Anak-anak yang bertumbuh dengan pola asuh ini menjadi pribadi berkarakter yang sangat bagus untuk dewasa kelak. Mari simak penjelasannya.

Pada pola asuh otoritatif, orang tua sangat hangat dan terbuka. Dia selalu menghargai pendapat anak dan memberi anaknya kebebasan untuk ekplorasi dan berkreasi. Dia juga menyadari kalau setiap anak memiliki keunikan masing-masing, tidak akan saling membandingkan dan memberikan dukungan. Namun orang tua ini juga menyadari kebebasan perlu disertai batasan dan pengawasan. Wajar saja ini disebut pola asuh anak yang baik untuk diterapkan oleh orang tua pada anak.

Kelebihan dari cara mendidik otoratif adalah sebagai berikut

  1. Dia suka eksplorasi

Anak-anak terlahir dengan rasa penasaran yang tinggi. Maka tidak jarang mereka ingin mencari tahu baik dengan memainkan barang yang ditemukan, memasukkan barang ke dalam mulut ataupun bertanya. Namun sering sekali orang tua yang membatasinya dengan alasan takut. Padahal rasa penasaran perlu terus dipupuk sehingga dia berani mencoba melakukan hal yang baru dan menemukan minat dan cita-citanya. Jadi, didiklah anak supaya dia tetap berani eksplorasi sementara ayah bunda tetap mendampingi.

  1. Dia mampu mengontrol diri dan mengatasi stress dengan baik

Saat si kecil didik dengan cara otoritatif, dia akan terbiasa diajak diskusi dalam mengambil keputusan dan peraturan di dalam keluarga. Dia juga akan belajar bertanggung jawab atas apa yang telah dia sepakati sendiri dan dia juga akan menjaga tingkah lakunya. Dia juga tidak mudah tantrum ketika ayah bunda tidak memenuhi keinginannya dan lebih gampang ditenangkan.

  1. Dia percaya diri dan ceria

Anak yang percaya diri adalah anak yang paling cemerlang di antara anak-anak sekelasnya. Dia juga lebih gampang bergaul dan memimpin anak-anak yang lain dalam melakukan suatu tugas. Rasa percaya diri ini timbul dari orang tua yang memberikan dukungan. Mereka juga memiliki inisiatif yang lebih kuat seperti bertanya kepada guru akan pelajaran yang tidak dimengerti dan tidak gampang menyerah ketika dia mencoba sesuatu yang baru ataupun meningkatkannya.

  1. Dia memiliki banyak sahabat

Si kecil yang dibesarkan dalam keluarga yang hangat akan memiliki hati yang hangat. Karena sebagaimana orang tua, begitulah anak. Dia juga akan ramah, terbuka, suka menolong dan mudah bersahabat dengan siapa saja sehingga dia memiliki banyak kenalan.

  1. Dia mudah diajak kerjasama

Si kecil yang sering diajak berembuk dalam mengambil keputusan tentu juga mudah diajak kerjasama. Yang penting dia telah diberikan batasan-batasan. Dia juga tipe yang bisa memberikan solusi karena harus berpikir kreatif saat diberikan keterbatasan namun tetap mendapatkan yang dia inginkan. Tentu dengan cara yang baik dan benar.

  1. Dia mau mencapai sesuatu tetapi tidak ambisius

Si kecil yang percaya diri ini tentu selalu ingin memberikan yang terbaik. Dia melakukan segala sesuatu yang baik namun bisa mengukur kemampuan diri sendiri. Dia juga tidak ambisius sehingga melakukan segala cara untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Saat gagal sekalipun dia lebih bisa menerima dan tidak pantang mundur untuk mencapai hasil yang bagus.

Nah ayah dan bunda sudah mempelajari pola asuh anak yang baik dan bisa meningkatkan kecerdasan dan membangun karakter si kecil. Bagi yang belum mempraktekkan, silahkan mulai dilakukan dan pastikan selalu bersabar karena perubahan tidaklah secepat yang kita harapkan. Semangat ayah bunda!

 

Ada Waktu Kapan Bunda Perlu Menerapkan Pola Asuh Otoritatif

Bunda perlu tahu ada yang disebut dengan pola asuh otoritatif. Sebenarnya, ada dua jenis pola asuh anak yang lain, yaitu permisif dan otoriter. Mungkin belum belum tahu apa perbedaan dari ketiga pola asuh anak tersebut. Untuk itu, bunda harus baca penjelasan singkat berikut ini.

Perbedaan Pola Asuh Otoriter, Otoritatif, dan Permisif

Jika bunda suka membaca artikel atau buku mengenai pola asuh anak yang baik, seharusnya bunda sudah tahu apa perbedaan antara ketiga jenis didik tersebut. Mungkin saja bunda lupa. Bunda akan ingat lagi setelah membaca keterangan singkat ini.

Pola asuh otoriter merupakan pola asuh di mana orang tua menentukan semua hal. Orang tua bersifat otoriter sehingga anak harus melakukan apa yang diperbolehkan oleh orang tua.

Sementara itu, pola asuh permisif itu kebalikan dengan pola asuh otoriter. Pola asuh anak permisif membuat anak susah dikontrol. Orang tua tidak punya kekuatan. Apapun yang anak inginkan, orang tua akan turuti. Dan pola asuh ini cenderung membuat akan manja.

Di tengah-tengah antara dua pola asuh tersebut adalah pola asuh otoritatif. Artinya, orang tua punya kekuatan. Namun, orang tua juga membiarkan anak melakukan sesuatu sesuai dengan keinginannya. Jadi, anak punya kebebasan untuk menentukan apa yang ia suka lakukan.

Nah, dari ketiga pola asuh tersebut, bunda pasti ingin sekali menerapkan pola asuh anak otoritatif, bukan? Namun, bunda harus tahu kapan waktunya untuk menjadi orang tua yang otoriter, permisif, dan otoritatif. Namun jangan sampai orang tua memakai pola asuh protektif.

Kapan Bunda Terapkan Pola Asuh Otoritatif?

Seperti yang sudah bunda ketahui, pola didik otoritatif adalah pola asuh tengah-tengah. Bunda tidak otoriter sehingga mengekang kebebasan anak. Di sisi lain, bunda juga tidak ingin membiarkan anak menjadi manja.

Namun, bunda harus tahu kapan harus menerapkan pola asuh ini. Pola asuh anak seperti ini sangat tepat diterapkan ketika anak sedang dalam pencarian jati dirinya. Kapan itu? Ketika masa puber.

Dalam hal ini, beda antara masa puber anak laki-laki dengan anak perempuan. Biasanya, masa puber anak perempuan jauh lebih cepat daripada anak laki-laki. Akan tetapi, secara umum, masa puber anak zaman sekarang itu ketika mereka duduk di bangku SMP.

Saat itulah bunda sebaiknya menerapkan pola asuh otoritatif. Kenapa? Karena pada waktu itu anak butuh kebebasan untuk berkreasi. Namun, sekali lagi, bukan berarti bunda tidak punya kontrol. Bunda harus membuat batasan-batasan sehingga anak masih dalam jalur atau koridor yang tepat.

Salah besar jika bunda menerapkan pola asuh otoriter. Ada kemungkinan anak akan semakin beringas dan justru sangat nakal karena merasa dikekang. Mungkin saja anak terlihat baik dan patuh di depan bunda. Namun, ketika berada di luar rumah, ia menjadi anak yang nakal. Ini menjadi pelampiasan karena ia tidak mendapatkan kebebasan di dalam rumah.

Salah juga jika bunda menerapkan pola asuh permisif. Bukan tidak mungkin anak justru jatuh dalam kondisi yang kurang baik untuk perkembangannya. Bunda membiarkan anak begitu saja untuk melakukan apa saja tanpa ada kontrol. Banyak orang tua yang menerapkan pola asuh ini justru berakhir dengan hal yang tidak mengenakkan. Anak terjun di pergaulan bebas karena orang tua tidak punya kontrol.

Jadi, apakah saat ini adalah waktu yang tepat untuk menerapkan pola asuh otoritatif? Bunda sendiri yang bisa menjawab.

Apakah Bunda Termasuk Orang Tua Yang Menerapkan Pola Didik Protektif

Jangan-jangan bunda adalah orang tua yang menerapkan pola didik protektif. Ini jelas bahaya. Perkembangan anak bisa kurang optimal. Bahkan, anak akan sangat sulit untuk menemukan potensi dalam dirinya lantaran bunda terlalu memberikan proteksi kepada sang anak.

Pola didik yang over protektif bisa saja masuk ke dalam jenis pola asuh otoriter. Pasalnya, bunda memberikan aturan dan juga larangan yang jelas. Dan anak cenderung tidak mampu bereksplorasi diri.

Ini bukan termasuk pola asuh anak yang baik. Dan bunda harus menghentikannya. Sayangnya, banyak orang tua yang tidak menyadari bahwasannya mereka menerapkan pola asuh protektif. Bagaimana dengan yang bunda lakukan selama ini?

Ada beberapa ciri pola asuh yang protektif.

Semua Diatur

Apakah bunda termasuk orang tua yang mengatur semua hal berhubungan dengan sang buah hati? Tentu saja bukan hal yang salah jika bunda mengatur hal-hal terkait dengan anak. Namun, tidak semua hal harus bunda yang menentukan.

Bunda bisa mengatur kapan anak harus makan, istirahat, tidur, dan bermain. Namun, bunda harus biarkan anak menentukan sendiri apa yang harus anak lakukan ketika di siang hari. Pasalnya, jika semua hal diatur secara mendetail, anak tidak bisa mengekspresikan kebebasan. Ia merasa terkekang.

Mengatur kegiatan anak memang ada tujuannya. Bunda mungkin ini memberikan proteksi agar kesehatan anak tidak terganggu. Namun, cukup dengan mengatur hal-hal yang inti saja seperti kapan anak beraktifitas dan kapan ia harus istirahat.

Membantu Semua Hal

Pernahkah bunda lihat ada orang tua yang melakukan apa saja untuk anak seperti membuatkan PR prakarya, membantu anak ketika terjatuh, melarang anak melakukan sesuatu? Mungkin tujuannya agar pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh anak bisa cepat selesai. Ini sebagai tanda kasih sayang seorang bunda. Namun, justru sebaliknya. Anak menjadi merasa tidak bebas.

Ikut Campur Urusan Anak

Salah satu ciri pola didik protektif adalah ikit campurnya orang tua dalam segala masalah anak. Apakah bunda punya anak usia sekolah? Mungkin saja ada konflik yang terjadi antara anak bunda dengan temannya di sekolah. Kira-kira, apa yang harus bunda lakukan?

Jika bunda ikut serta dalam konflik tersebut dengan tujuan agar mereka berdamai, itu adalah hal yang bagus tapi tidak bijak. Akan lebih baik jika bunda memberikan nasehat kepada anak. Minta sang buah hati untuk bercerita mengenai konflik yang ia alami. Lalu, berikan nasihat agar konflik dengan temannya tersebut selesai. Biarkan anak menerapkan apa yang bunda nasihatkan kepadanya.

Dengan cara tersebut, bunda tidak ikut campur. Bunda hanya membantu di belakang layar agar anak bisa mengatasi masalahnya sendiri.

Terlalu Banyak Larangan

Seharusnya bukan larangan yang harus diperbanyk tapi contoh yang baik. Dengan memberikan contoh yang baik, maka anak tidak punya waktu untuk melakukan hal yang seharusnya bunda larang.

Kalaupun ada hal yang perlu bunda larang, jangan langsung melarang. Berikan penjelasan mengapa bunda melarang anak untuk melakukan hal terseut. Inilah pola asuh anak yang baik. Akan lebih baik jika bunda mengawasi saja. Biarkan anak melakukan kesalahan baru kemudian bunda ajak anak untuk berdiskusi bahwasannya apa yang anak lakukan tersebut hal yang salah dan tidak boleh dilakukan.

Setidaknya itulah parameter tentang opla asuh yang protektif. Apakah bunda termasuk orang tua yang menerapkan pola didik protektif?