Pentingnya Ilmu Parenting Anak Untuk Orangtua Yang Baru Saja Memiliki Anak

Menjadi orangtua merupakan peran yang lumayan sulit, karena bila kita salah langkah mendidik anak maka anak dapat menjadi anak yang nakal atau sebagainya. Parenting anak merupakan salah satu cara orangtua mendidik anak, baik itu dengan memberi makanan yang baik (nourishing)untuk anak, memberikan petunjuk atas kesalahan yang telah diperbuat (guiding), dan bagaimana orang tua melindungi anak dalam proses tumbuh kembang anak (protecting).

Seperti yang kita ketahui bahwa peran orang tua dalam mendidik anak usia dini itu sangat penting, apa yang Mum ucapkan, Mum lakukan, atau Mum respon, bila hal tersebut terlihat dan terdengar oleh anak, semua terekam dengan baik. Jadi, tidak heran bila ada banyak anak yang secara tidak langsung pintar mendadak, karena hal tersebut ditangkap orangtua mereka. Itulah sebabnya sangat dibutuhkan parenting anak agar orangtua dan anak tidak keluar dari jalurnya.

Keluarga dan lingkungan sekitar merupakan tempat awal dimana anak-anak belajar untuk beradaptasi, bila orangtua atau lingkungan sekitar memberikan pengetahuan yang positif, maka akan berdampak positif pada anak. Begitu pula sebaliknya, bila anak bertingkah tidak wajar itu karena lingkungan sekitarnya yang memberikan contoh tidak baik.

Apa tujuan dari parenting anak?

Tujuan diadakannya parenting ini merupakan dorongan agar orang tua memberikan pelajaran dan pengajaran yang terbaik kepada anak, untuk itu, sebagai orang tua yang baik Mum harus mau belajar  dan mencari informasi mungkin bahkan ikut pelatihan parenting bila memang diperlukan.

Selain itu tujuan lainnya adalah untuk memperbaharui pengetahuan Mum mengenai cara mendidik anak. Dapat dengan konsultasi ke pengajar di sekolah anak, setidaknya anak dapat mengapilikasikan informasi yang didapatnya di sekolah dalam kehidupan sehari-hari di keluarga.

Kenapa Mum harus belajar mengenai parenting?

Dengan Mum belajar mengenai parenting setidaknya Mum dapat belajar kembali bagaimana membuat anak jadi orang yang baik dan pintar, juga diperlukan ketekunan dan keikhlasan dalam melakukannya, sama seperti kita melukis sebuah objek agar sempurna, seperti yang kita inginkan.

Tidak hanya itu saja, dengan belajar parenting Mum pun akan belajar bagaimana cara yang tepat melarang anak tanpa harus membuatnya tersinggung, kebutuhan anak apa saja yang harus diprioritaskan, bagaimana berhemat dan menabung, bagaimana menyelesaikan anak yang tantum, itu semua ada manfaat parenting.

Salah satu contoh parenting yang mungkin dapat Mum terapkan pada anak adalah bagaimana membuat anak untuk menjadi pribadi yang lebih mandiri. Sebagian orangtua mungkin tidak akan percaya begitu saja kepada anak yang ingin mandi sendiri, makan sendiri, ataupun bermain di luar sendiri. Padahal kalau Mum dapat memberikan anak sebuah rasa kepercayaan, maka sudah dapat dipastikan bahwa anak tersebut akan tumbuh menjadi anak yang mandiri.

Tidak semua hal kotor itu salah Mum, nyatanya dengan membiarkan anak bermain lumpur di luar saat hujan, atau bermain bola kemudian tubuh mereka kotor, hal tersebut dapat membantu tumbuh kembang anak.

Ada banyak cara untuk membuat anak mandiri, diantaranya adalah:

  1. Biasakan untuk menghindari kata negative “jangan”, karena tanpa Mum ketahui kata “jangan” tersebut merupakan larangan yang pada akhirnya membuat anak semakin penasaran dan pada akhirnya melakukan kata “jangan” tersebut.
  2. Beri waktu anak untuk berkarya dengan kemampuan yang mereka miliki, bila mereka menemui kesulitan jangan segan untuk menawarkan bantuan, dan beri pujian bila mereka sudah selesai dengan prakarya mereka.
  3. Biarkan si kecil makan sendiri bila memang sudah minta makan sendiri.
  4. Ajarkan anak untuk terbiasa mengucapkan kata-kata emas seperti; tolong, maaf, dan terima kasih.
  5. Ajak si kecil untuk selalu merapikan mainannya setelah bermain ke dalam kotak mainan, dengan begitu si kecil belajar untuk bertanggung jawab atas mainannya.

Masih banyak lagi ilmu parenting anak yang mungkin dapat Mum temukan di banyak referensi. Semoga ulasan ini dapat membantu dan sedikit memberikan informasi yang pas untuk Mum juga keluarga.

Advertisements

5 Tips Mendidik Anak Agar Ia Lebih Percaya Diri

Sebagai orang tua, pastinya kita akan sangat bangga melihat anak menjadi seseorang yang cerdas. Untuk itulah, banyak orang tua yang mencari tips mendidik anak agar ia dapat sukses di kemudian hari. Tapi tahukah Bunda dan Ayah, kalau kecerdasan pada anak itu mempunyai berbagai macam jenis?

Kecerdasan pada anak sangatlah beragam tergantung dengan keunikan setiap anak masing-masing. Ada yang cerdas dalam bidang matematika atau bahasa. Ada juga yang memiliki kecerdasan di bidang musik dan olahraga. Selain yang berhubungan dengan hobi dan pelajaran, ada pula kecerdasan yang berhubungan dengan hubungan anak dengan teman sebaya dan dengan dirinya sendiri.

Kecerdasan yang berhubungan dengan dirinya sendiri sering disebut sebagai kecerdasan intrapersonal. Salah satu tandanya adalah dapat mudah mengkomunikasikan apa yang ia pikirkan dengan baik pada orang lain dan memiliki rasa kepercayaan diri yang tinggi. Kedua hal ini adalah bekal yang penting agar ia dapat sukses, tidak hanya di sekolah tetapi hingga di masa mendatang.

Percaya diri adalah sifat yang harus dibangun dan itu merupakan tugas setiap orang tua untuk memupuk rasa percaya diri pada anak. Ia dapat dibangun dari anak masih bayi dan akan berkembang perlahan-lahan seiring berjalannya waktu. Ketika seorang bayi merasa aman, dicintai, dan diterima oleh orang-orang yang dekat dengannya, rasa percaya diri juga akan muncul. Mengembangkan rasa pede ini adalah sebuah proses yang harus terus dibangun.

Ada berbagai cara sederhana untuk mengembangkan rasa pede pada anak, yaitu dengan menumbuhkan sikap positif dan realistis terhadap kemampuan anak. Lebih lanjutnya lagi, yuk simak tips mendidik anak bagi orang tua agar rasa percaya diri anak bisa berkembang!

Beri anak pujian dan feedback positif

Memuji anak adalah sebuah ungkapan dari orang tua bahwa kita merasa bangga dengannya. Memberikan pujian pada anak adalah hal yang baik. Tidak hanya baik, ternyata apabila dilakukan dengan benar, pujian juga sangat penting bagi kepercayaan dirinya.

Hal yang paling utama untuk diingat ketika memberinya pujian adalah dengan menjadi realistis. Jangan melebih-lebihkan pujian untuknya, misalnya dengan memberitahunya kalau ia bermain dengan baik sekali saat ia mengacaukan penampilan musiknya di atas panggung. Sebagai gantinya, coba katakan “sangat tidak apa-apa untuk tidak bisa melakukan semuanya dengan sempurna“ dan dukung ia untuk kembali berlatih dan berusaha.

Selain itu, coba untuk memuji usahanya. Hindari memujinya karena apa yang ia dapat sebagai hasilnya. Malahan, orang tua dapat memuji usaha, progres, dan sikapnya selama mempersiapkannya. Ketika anak merasa orang tua menghargai apa yang ia lakukan, rasa kepercayaan dirinya untuk terus berusaha akan selalu ada.

Ajari daya tahan

Tidak ada orang yang berhasil dalam segala hal sepanjang waktu. Pasti akan ada waktu di mana kegagalan, kritik, rasa sakit, dan halangan menyertai segala prosesnya. Manfaatkan rintangan ini untuk mengajarkan anak untuk belajar dari pengalaman daripada berlarut-larut dalam kegagalan di masa lalu.

Peribahasa “bersakit-sakit dahulu, berenang-renang ke tepian“ dapat memotivasi dan mengajarkan anak untuk tidak cepat menyerah. Namun penting juga untuk memberikannya pemahaman apabila kegagalan dalam hidup juga merupakan hal yang sangat wajar. Apabila anak mendapatkan nilai yang kurang memuaskan dalam ujiannya, jangan pernah mematahkan semangatnya. Coba arahkan ia untuk dapat melakukan yang lebih baik di ujian selanjutnya.

Berikan kasih sayang untuk anak

Memberikan kasih sayang untuk anak adalah hal yang sangat wajar bagi orang tua. Namun tips sederhana ini mempunyai dampak yang begitu besar bagi anak. Meskipun terkadang sebagai orang tua, kita tidaklah selalu sempurna dalam mendidik anak. Yang perlu dipahami adalah bahwa anak perlu merasa kalau ia diterima dan dicintai, dimulai dari dalam keluarganya sendiri.

Ketika anak merasakan kasih sayang dalam keluarganya, hal ini akan terus menyebar hingga ke teman-teman dan komunitasnya. Kasih sayang dari orang tua ini menjadi dasar yang paling kuat dalam membangun kepercayaan diri anak.

 

Itu lah Bunda, tips agar si Kecil menjadi lebih percaya diri. Tetap ingat kalau tidak ada hal yang sempurna di dunia ini, begitu juga dalam menjadi orang tua. Tetap terus memperbaiki diri dengan mencari informasi terpercaya sebanyak-banyaknya.

Pola Asuh Anak yang Baik untuk Menumbuhkan Empatinya

Sebagai orang tua, pastinya Bunda dan Ayah menginginkan anak menjadi seseorang yang berempati dan peduli pada lingkungan sekitar. Selain karena merupakan sifat yang baik dan positif, anak yang mempunyai empati tinggi akan lebih disukai oleh teman-temannya dan meraih kesuksesan ketika ia beranjak dewasa. Karena itulah, menumbuhkan empati anak lewat pola asuh anak yang baik adalah hal yang penting.

Empati adalah sebuah fondasi utama untuk keterampilan sosial anak. Dengan empati, ia akan lebih peka dan memahami perasaan orang lain. Anak juga lebih pandai menjalin hubungan pertemanan dengan siapapun. Sifat empatik ini juga merupakan salah satu cara untuk menghentikan perilaku bullying yang semakin mengkhawatirkan saat ini.

Meskipun sifat empatik ini terjadi secara alami, sifat ini tetap harus ditumbuhkan dan dijaga. Mengajarkan anak memiliki rasa empati adalah tugas orang tua dan harus ditanamkan sedari ia kecil. Maka dari itu, pola asuh yang dipakai orang tua akan berdampak pada tumbuh kembangnya.

Untuk semakin menumbuhkan rasa empati anak, yuk simak tips parenting untuk orang tua ini!

 

Jadilah role model dalam berempati dengan sesama

Orang tua adalah guru pertama bagi seorang anak sehingga apa saja yang dilakukan oleh orang tua akan ditirunya. Secara sederhana, anak-anak belajar dari apa yang mereka lihat dan mereka dengar dari orang tuanya. Misalkan saja ketika ada cemilan untuk anak, usahakan untuk menunjukkan sikap berbagi dan berbincang dengan orang lain. Gunakan setiap kesempatanini untuk mengajarkan anak secara tidak langsung mengenai nilai-nilai yang ada di masyarakat.

Apabila orang tua mempunyai kepedulian dan empati pada orang lain, bahkan pada orang yang tidak dikenal, anak akan belajar untuk melakukan hal yang sama. Namun sebaliknya, apabila orang tua justru tidak menunjukkan rasa empati pada orang lain, anak akan menirunya juga.

Menjadi role model bukan berarti harus menjadi sempurna setiap saat. Yang terpenting adalah membangun rasa saling percaya dan memahami pemikiran dan mendengarkan perspektif anak.

Berikan kesempatan anak melatih empatinya

Menumbuhkan rasa empati sama seperti memainkan sebuah alat musik: sama-sama harus dipelajari, dibina, dan dipraktekkan setiap harinya. Lama kelamaan, bersikap empatik akan menjadi hal yang tanpa disadari terus dilakukan oleh anak. Ia akan lebih baik dalam memahami perspektif orang lain. Selain itu, beberapa studi menunjukkan dengan bersikap empatik ini akan membuatnya ikut bahagia dan sehat.

Sebagai orang tua, cobalah mendorong anak berempati dengan teman sebayanya. Tanyakan anak mengenai teman sekelas atau teman bermainnya. Apakah mereka terlibat pertengkaran dengan temannya dan coba mengajaknya memikirkan perspektif temannya.

Ajak anak untuk melakukan kegiatan sosial bersama. Misalnya orang tua dapat mengajak anak untuk melakukan silahturahmi dengan tetangga yang sedang merayakan hari raya. Selain itu, ajarkan ia bahwa saat melakukan sebuah kegiatan sosial bukan melakukannya ‘untuk‘ orang lain tetapi melakukannya ‘dengan‘ orang lain.

Jadikan peduli dengan orang lain sebagai prioritas

Orang tua biasanya lebih mementingkan prestasi anak daripada kepeduliannya dengan orang lain. Tidak salah, memang. Namun, anak harus belajar untuk menyeimbangkan apa yang menjadi kebutuhannya dan kebutuhan orang lain seperti belajar bekerja sama dengan temannya untuk mencapai suatu tujuan atau prestasi bersama.

Ajarkan pada anak bahwa hal yang paling penting adalah menjadi baik dengan sesamanya. Selain itu ajarkan juga sikap saling menghargai dan menghormati orang lain meskipun mereka sedang marah atau lelah. Berikan pemahaman bahwa sebagai manusia, ada hal-hal yang harus diutamakan dibanding rasa mau menang sendiri ada anak.

Tunjukkan bagaimana cara berkomunikasi yang baik

Di era teknologi saat ini, chatting juga merupakan salah satu cara berkomunikasi dengan praktis. Namun, sebuah hubungan tidak dapat dibangun atau dipertahankan hanya dengan berkomunikasi menggunakan chatting. Ajari anak bahwa komunikasi secara elektronik tidak dapat menggantikan komunikasi secara verbal dan langsung dengan orang lain.

Dengan berkomunikasi secara langsung, anak akan lebih dapat mengenal dan memahami lawan bicaranya. Dan selanjutnya, rasa empatinya juga akan bertumbuh.

Berempati dengan anak

Satu hal yang luput dilakukan oleh orang tua adalah mempraktekkan sikap empatik itu sendiri pada anak. Selain menunjukkan bagaimana berempati dengan sesama, anak juga harus merasakan sendiri pengalaman empati dari orang tuanya sendiri. Berempati dengan anak akan menumbuhkan rasa percaya dan kasih sayang pada orang tua.

Berempati dengan anak dapat dilakukan melalui banyak hal, salah satunya dengan berpikir dengan sudut pandang mereka. Orang tua juga dulunya sama-sama merupakan seorang anak, maka cobalah melihat dunia dari mata seorang anak. Kenali ia lebih dalam dengan menanyakan pertanyaan mengenai kegiatannya di hari itu. Selain itu, biarkan dia berbicara panjang lebar tanpa memotongnya karena dapat menjadi pola asuh anak yang baik agar dia percaya diri.

 

Macam-macam Teori Pola Asuh, Manakah yang Efektif untuk Si Kecil?

Menjadi orang tua memang merupakan sebuah pekerjaan yang tidak mudah. Orang tua juga harus mengikuti perkembangan dan tantangan zaman ketika si Kecil hadir. Apalagi, pekerjaan ini merupakan pekerjaan sepanjang hayat yang akan memaksimalkan tumbuh kembang seorang anak. Perlu tanggung jawab yang besar dan pola asuh yang tepat untuk menangani si Kecil. Banyak sekali tawaran macam pola asuh yang dapat diterapkan oleh orang tua. Namun demikian, dari macam-macam pola asuh, manakah yang paling tepat dalam mendidik si Kecil?

Pola asuh atau parenting merupakan bagian terpenting dalam pembentukan tingkah laku dan kecerdasan dari dalam diri seorang anak. Hal yang paling pertama yang harus diingat oleh setiap orang tua adalah fakta bahwa anak lahir di zaman yang berbeda dengan orang tua. Maka dari itu, Bunda, penanganannya pun juga akan berbeda ketika kita kecil dahulu. Hasil dari tiap pola asuh juga akan berbeda-beda. Sebelum menjawab pertanyaan mana pola asuh yang tepat untuk si Kecil, yuk kenali dulu beberapa teori pola asuh menurut Diana Baumrind dan diperluas oleh Maccoby dan Martin.

Menurut Baumrind, dalam interaksi antara orang tua dan anak, ada beberapa aspek penting dalam pola asuh. Aspek-aspek itu ialah kehangatan dan strategi dalam mengontrol anak. Dari aspek inilah, dihasilkan 4 jenis gaya pola asuh, yaitu

Otoriter

“Jam 5 sore, pokoknya harus sudah ada di rumah. Tidak boleh lagi bermain di luar!”

Macam pola asuh ini menekankan kedisiplinan, bahkan cenderung keras. Biasanya pada gaya pola asuh ini, ada berbagai peraturan yang harus diikuti dengan kontrol yang ketat. Untuk dapat membuat anak mematuhi peraturan ini, biasanya akan diberlakukan ancaman dan hukuman, yang sebaiknya tidak lagi diberlakukan.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang diasuh dengan pola asuh otoriter ini memang mempunyai kedisipinan yang tinggi, tetapi didasarkan pada ketakutan akan menerima hukuman. Kebanyakan anak juga rentan menjadi rendah diri dan tidak terbiasa membuat pilihan bagi diri mereka sendiri.

Permisif

“Kerjakan PR, ya? Nanti Bunda belikan mainan mana yang kamu pilih.“

Gaya pola asuh ini berlawanan dengan gaya pola asuh yang otoriter. Apabila gaya pola asuh otoriter akan menekankan pada kedisiplinan anak, maka orang tau dengan gaya pola asuh ini seringkali disebut sebagai orang tua yang memanjakan anak. Orang tua yang permisif tidak suka dan cenderung menghindari konflik untuk mengatur perilaku anak-anak mereka.

Walaupun kedisiplinan seringkali dianggap membatasi perkembangan alami anak, dalam hal mendisiplinkan anak, orang tua yang permisif akan menggunakan ‘suap‘ agar dapat mengontrol anak. Anak juga akan didorong untuk berdiskusi dan tidak hanya patuh pada perintah orang tua. Efek dari gaya pola asuh ini adalah tidak adanya figur otoritas bagi anak, cenderung tidak disiplin, dan memiliki keterampilan sosial yang tinggi.

Otoritatif

Apabila pola asuh otoriter terlalu keras tetapi pola asuh permisif terlalu lembek, maka gaya pola asuh otoritatif bisa menjadi jalan tengah dan menjadi gaya pola asuh yang ideal. Orang tua yang otoritatif akan menggabungkan mana yang baik dari dua pola asuh lainnya, yaitu kasih sayang dan kedisiplinan. Orang tua akan menegaskan aturan-aturan yang ada di rumah dan disertai dengan pemahaman sebagai bentuk komunikasi antara orang tua dan anak.

Orang tua yang otoritatif akan menggunakan pujian dan hal-hal positif untuk membuat anak berperilaku baik. Orang tua juga akan berusaha memahami anak dan mendorong anak untuk memecahkan masalahnya sendiri. Efeknya, anak-anak akan percaya diri dan berorientasi pada tujuan.

Tidak terlibat (uninvolved)

Orang tua dengan gaya pola asuh yang terakhir ini tidak terlibat dalam pengasuhan anak. Biasanya ikatan batin antara orang tua dan anak lebih kurang dibanding gaya pola asuh yang lain dan tidak responsif pada kebutuhan anak. Efek pada anak ialah, anak cenderung mempunyai harga diri yang rendah dan kurang kompeten secara sosial.

Itu dia beberapa macam-macam pola asuh yang biasa diterapkan di rumah. Perlu diingat bahwa tidak ada pola asuh yang benar-benar sempurna dan tidak semua pola asuh dapat diterapkan pada anak karena karakter anak yang berbeda-beda dan unik. Yang terpenting adalah konsisten dan jadilah contoh yang baik bagi si Kecil.

Pola Asuh Anak Untuk Si Kecil Yang Suka Berkata Kasar

Tidak ada orang tua yang senang anaknya berkata-kata kasar apalagi kotor. Bunda sudah memarahi dan menghukumnya, namun bunda kerap mendengar dia melakukannya bersama teman-temannya di belakang bunda. Kalau sudah begitu, bunda perlu mengkaji ulang pola asuh anak dalam hal ini. Coba simak ini ya bunda.

Anak-anak adalah pemerhati dan peniru yang baik. Mereka selalu memperhatikan kelakukan dan kata-kata yang diucapkan orang dewasa di sekitarnya. Salah satunya adalah ucapan yang dikeluarkan ketika mereka marah. Setiap intonasi ini menggelitik mereka dan akhirnya mereka pun mencoba praktekkan ke orang-orang di sekitarnya. Jadi pembelajar kata-kata kasar ini bukan selalu salah di cara mendidik orang tua.

Bunda perlu ketahui, ketika anak-anak menggunakan bahasa kasar, mereka tidak mengerti maknanya. Intonasi yang terdengar itulah yang membekas di pikiran mereka. Intonasi tersebut seperti memberikan sinyal elektrik ini mengganggu sistem emosi si kecil yang masih rapuh dan membekas di pikiran mereka. Jadi ketika si kecil merasa kesepian, terganggu atau marah, intonasi-intonasi yang terekam ini keluar seperti yang pernah di dengarnya. Kata-kata yang dikeluarkan ini sebenarnya bukan apa yang ingin dia lakukan, namun dia tidak bisa memikirkan cara lain dalam menyampaikan betapa tidak nyamannya kondisi mereka. Ketika mereka mengucapkan kata-kata ini, kadang ini adalah cara mereka meminta bantuan bunda untuk menolong kerapuhan mereka.

Marah dan menghukum tentu bukanlah cara yang tepat mengatasi kebiasaan ini. Cara mendidik anak yang kaku seperti meminta anak itu untuk berhenti mengucapkan kata-kata kasar dan memarahinya akan menimbulkan rasa takut dan amarah yang terpendam. Akibatnya, kecerdasan anak pun terganggu. Survey membuktikan, cara yang keras dan mengekang ekpresi anak ini hanya akan membuat si kecil kembali mengucapkan kata-kata yang sama. Selain itu, anak anak akan menggunakan kata-kata kasar itu di pikirannya, menambah amarahnya lalu menjadi bom waktu yang siap meledak bila sudah tidak tertahankan.

Cara lain yang tampaknya lebih “manusiawi” adalah memberikan si kecil penjelasan. Penjelasan akan membuat si kecil mengalihkan perhatian anak-anak untuk sementara waktu tetapi ketegangan emosi yang dia rasakan tidak terselesaikan. Padahal kata-kata kasar ini terjadi akibat ketegangan emosi yang dia rasakan.

Tentu kita tidak merekomendasi tindakan buruk ini diabaikan karena rasa simpati. Tindakan mereka terlalu menyakitkan untuk diabaikan dan mengganggu orang-orang dan lingkungan di sekitarnya. Respon yang benar perlu diberikan agar si kecil bertumbuh dengan baik tanpa harus mengekangnya.

Bagaimana memulainya?

Cara mendidik anak yang baik selalu dimulai dari bunda sendiri. Bunda akan kesulitan untuk fleksible bila bunda kesulitan untuk mengatasi sisi emosional bunda dan ucapan-ucapan yang keluar dari mulut bunda. Untuk mengatasi ini, bunda membutuhkan orang-orang yang bisa mendengarkanketika bunda mengungkapkan kekesalan bunda. Bunda tidak membutuhkan komentar, bunda lebih membutuhkan orang-orang yang mendengarkan sementara bunda mencari tahu penyebab sikap-sikap bunda.

Ketidakmampuan bunda mengelola emosi bisa digali dari masa kecil bunda. Apakah bunda dihukum karena berkata kasar? Kata-kata yang sering diucapkan orang tua bunda ketika mereka marah. Apakah bund amemiliki sejarah dengan kata-kata yang diucapkan si kecil sehingga bunda sangat terganggu dengan apa yang dia ucapkan? Setiap pertanyaan yang diajukan penting untuk bunda jawab. Bunda akan mengenang masa kecil bunda sehingga bisa membuat diri bunda menjadi pribadi yang lebih baik. Dan untuk semua kesalahan yang bunda pernah lakukan pada si kecil, tenang saja, si kecil akan tumbuh baik-baik saja.

Setelah bunda menyadari penyebab dan memperbaiki diri, bunda perlu mencari tahu cara mendidik anak yang benar. Sukses mendidik ya bunda.

 

Pola Asuh Anak Agar Dia Tidak Berkata Kasar

Kata-kata yang kasar tidaklah pernah enak didengar. Apalagi kata-kata itu keluar dari bibir si kecil. Bila bunda dan ayah sering mengucapkan kata-kata kasar, penyelesaian kata-kata kasar ini perlu dimulai dari kalian berdua. Untuk penjelasannya, bunda bisa membaca Cara Mendidikan Anak Yang Baik: Ketahui Alasan Si Kecil Berkata Kasar. Tetapi bila dalam diri keluarga tidak memiliki kebiasaan buruk tersebut, bunda bisa membaca pola asuh anak yang baik agar dia tidak berkata kasar ini.

Secara singkat, penyebab anak-anak berkata kasar adalah dia sedang memiliki masalah dalam dirinya. Baik dia kesepian, tertekan dan lain-lain. Namun dia tidak memiliki kemampuan ungkapin. Lebih buruknya, dia melihat orang-orang berkata kasar ketika emosi orang tersebut lagi naik. Akibatnya dia berpikir, berkata kasar ketika emosi buruk adalah cara untuk mendapatkan pertolongan dari orang tua.

Dalam pola asuh anak dalam keluarga yang baik, kita tentu tidak serta merta diam melihat tingkah laku mereka yang tidak layak ini. Bila tidak diatasi, bunda akan melihat dia ditolak oleh lingkungannya sendiri dan merusak sekitarnya. Lalu apa yang bunda bisa lakukan?

Observasi. Bunda perlu mengetahui kapan si kecil menggunakan kata-kata tersebut. Apakah sehabis dia pulang dari sekolah? Apakah ada situasi atau kondisi tertentu yang mendorongnya mengucapkan kata-kata kasar? Ketika saudaranya bermain dengan barang-barangnya? Ketika bunda sedang tidak memperhatikannya dalam jangka waktu tertentu? Mungkin si kecil sedang menghadapi transisi. Bunda perlu mencari tahu penyebab dia merasa kesepian dan tertekan hingga dia berkata kasar. Biasa kata-kata ini adalah jeritan dari kurang rasa percaya dirinya.

Lalu apa yang bunda bisa lakukan?

Gunakan “waktu spesial”

Waktu spesial ini adalah salah satu cara yang cukup ampuh untuk menghilangkan kebiasaan buruk anak. Contoh, si kecil akan mendapatkan waktu spesial 10 menit ketika kamu pulang bila dia berkata kasar pada hari itu. Atau dia mendapatkan waktu spesial 5 menit setiap dia mengatakan hal tersebut ke saudaranya.

Membatasi kebiasaan buruk si kecil dengan kehangatan dan rasa humor

Waktu spesial tidak akan menghapus kebiasan mengutakan kata-ata kasar tetapi sanggup mengurangi kebiasaan buruk si kecil. Sebagai orang tua dalam menerapkan pola asuh anak yang bagus, bunda tentu tidak boleh mengatakan kata-kata kasar untuk menjadi contoh bagi si kecil. Dan ketika dia mengucapkannya, bunda perlu menangani tingkah laku tersebut sedini mungkin. Bunda tidak perlu menjadi orang jahat. Bunda perlu mengubah cara berpikir kalau si kecil yang lembut dan menyenangkan ini sedang memiliki mood yang buruk. Untuk mengeluarkannya dari kondisi buruknya, bunda bisa:

Menggendongnya dan berkata, “saya mendengar kamu mengatakan kata-kata tersebut.” Dekaplah si kecil dan lihat apakah dia tertawa oleh tindakan kasih sayang bunda

Berkata, “siapapun yang berkata-kata jahat ini, aku akan menangkapnya.” Lalu kejarlah si kecil dan berusahalah agar dia tidak tertangkap secepat mungkin. Setelah menangkapnya, peluk dia dengan penuh kasih sayang.

Kenapa bunda perlu melakukan ini? Karena anak-anak sedang memberi sinyal kalau dia tidak bisa berpikir. Penggunaan kata-kata kasar ini memiliki makna, dia tidak bisa berkoneksi dengan siapapun di rumah ini. Pada saat-saat ini bermainlah dengan rasa humor, tertawa dan penuh kasih sayang tanpa menghukum. Biarkanlah si kecil merasakan kalau di rumah itu terasa menyenangkan.

Jangan kaget ya bunda kalau dia ingin bermain game seperti ini lagi dan lagi karena merasakan kesembuhan dari tawa dan kaih sayang yang bunda berikan. Dia sedang mencoba sembuh dari efek sikap buruk yang dia berikan dan mengganggu sistem emosinya.

Bersiap menjadi pendengar

Kalau bunda mendengar ada kesedihan dalam kata-kata kasarnya, bunda jangan meresponi dengan candaan. Bunda perlu memberikan tatapan mata yang memberikan sinyal kalau bunda mengerti apa yang dia rasakan. Perasaan-perasaan yang dia rasakan membuat dia ingin kabur, berkata kasar lebih banyak atau meninju. Bunda tetaplah berdiri dekat dia dan jagalah dia dari menyakiti orang lain. Bunda perlu terus dekat sama dia sehingga dia bisa merasakan keinginan untuk dekat dengan bunda. Dia membutuhkan pendengar.

Ketika dia siap, dia akan menceritakan rasa marah, bingung dan frustasinya. Dia akan menumpahkan segala amarahnya pada bunda. Tetapi tetaplah bunda mendengarkan dia untuk mengurangi tekanan emosi yang dia rasakan dibalik sikap buruknya. Sekalipun alasan dia marah adalah hal-hal yang remeh, janganlah tertawa dan tetap jadi pendengar yang baik.

Sekian info kami tentang Pola Asuh Anak Agar Dia Tidak Berkata Kasar. Untuk lebih lengkapnya, bunda bisa simak artikel Dancow. Semangat menjadi ibu yang lebih baik ya.

 

7 Tanda bunda memiliki pola asuh memanjakan anak

Setiap orang tua tentu ingin menerapkan pola asuh anak terbaik. Mereka berusaha menyediakan sandang, pangan dan pendidikan terbaik. Mereka juga memberikan waktu untuk mengawasi mereka melakukan peer, mengantar si kecil sekolah, memasak makanan terbaik untuk mereka dan seterusnya. Tindakan bunda mungkin didasari oleh rasa sayang yang besar terhadap anak. Namun pola asuh ini termasuk pola asuh memanjakan anak ini akan membuat si kecil tidak tumbuh menjadi anak yang mandiri dan percaya diri. Bagaimana cara mengenali pola asuh bunda terlalu memanjakan? Simak penjelasannya berikut ini.

  1. Bunda sering memuji si kecil berlebihan

Salah satu tanda bunda terlalu memanjakan si kecil adalah terlalu memanjakan. Kami semua setuju kalau anak-anak membutuhkan kata-kata penguatan, namun orang tua kadang suka berlebih dalam memberikannya. Pemberian pujian yang berlebihan itu sebenarnya hanya cocok untuk bayi atau batita di mana mereka kudu belajar sikap yang pantas dan tidak. Setiap pujian akan membantu mereka mendapatkan keahlian-keahlian yang baru. Namun semakin bertambah usianya dan mengerti apa yang perlu dilakukan bahkan ahli, bunda sudah tidak perlu terlalu memuji mereka.

  1. Bunda memberikan terlalu banyak hadiah berupa materi

Orang tua senang memberikan terlalu banyak barang-barang materi. Orang tua suka membelikan sesuatu yang baru kepada si kecil ketika mereka tidak menyukai pemberian mereka dan marah-marah. Bunda perlu menyadari tindakan seperti ini tidak akan mengajarkan si kecil arti “syukur”. Mereka perlu merasa cukup dan membedakan barang-barang yang mereka inginkn versus butuhkan. Sadarkah bunda kalau anak-anak zaman sekarang memiliki terlalu banyak barang di rumah dibanding zaman kita dulu dan kita tetap baik-baik saja. Dan anak-anak harusnya melakukan peer, sharing dengan keluarga dan bermain bersama teman-temannya.

  1. Ekspektasi bunda terlalu rendah

Semakin bertambahnya usia, si kecil biasanya makin sibuk dengan urusan sekolah, ekstrakulikuler, les dan masih banyak lagi. Orang tua biasanya ragu-ragu dalam memberikan tanggung jawab terhadap anak. Tetapi mengasuh anak seperti ini akan membahayakan si kecil. Orang tua yang memberikan ekspektasi terlalu rendah namun mengharapkan imbalan besar akan mengganggu si kecil ke depannya saat terjun ke masyarakat. Di mana dia akan dituntut memberikan lebih untuk menggapai impiannya.

  1. Memberikan terlalu sedikit tanggung jawab

Ekspektasi selalu terkait dengan meminta pertanggung jawaban dari mereka di usia yang tepat. Salah satu hal yang bisa bunda terapkan adalah kegiatan seputar dapur. Anak-anak biasanya mau membawakan piring makanannya ke bak cucian, mengatur meja makan, mengeluarkan sampah dan membantu masak. Bunda juga perlu mengajarkan mereka membersihkan berantakan. Awalnya kegiatan ini akan sangat memakan waktu, namun tenang saja bunda, pelatihan ini akan membantu bunda dan mereka di masa depan.

Meningkatkan tanggung jawab dalam mengasuh anak dan mengurangi melakukan segala sesuatu untuk mereka akan menjadi si kecil bertumbuh jadi anak mandiri, orang dewasa yang bertanggung jawab. Penting untuk cermati, ketika bunda mengajarkan anak tentang tanggung jawab, si kecil perlu mengerti kalau bunda melakukannya karena kalian tinggal bersama, berbagai tanggung jawab dan nikmatnya memiliki rumah sendiri.

  1. Bunda sering berulang-ulang

Seringkali bunda yang belum terbiasa memberikan pertanggung jawaban memiliki kecenderungan mengingatkan berulang-ulang tugas yang bunda berikan. Bunda perlu sadari, ketika si kecil sudah mengerti apa yang perlu dilakukan, dia akan melakukan ketika tepat pada waktunya bahkan ketika bunda lagi bepergian.

  1. Bunda membantu tanpa diminta

Setiap orang tua pasti selalu senang membantu anak-anaknya ketika diminta. Namun orang tua perlu menahan diri dalam menolong mereka hingga diminta. Seringkali kita melihat orang tua membantu anak-anak menyiapkan dan kadang membawakannya. Dan bila kebiasaan ini terus dilakukan, bunda akan melihat anak-anak kuliah yang tidak tahu apa yang dia mau. Namun bila bunda menghilangkan kebiasaan ini, anak-anak akan lebih memiliki keputusan dan membantu diri sendiri. Kadang mereka lebih kreatif dibanding orang tua.

  1. Mencegah si kecil melakukan kesalahan

Saat si kecil mengambil keputusan, mereka pasti akan membuat kesalahan. Melakukan kesalahan itu bukan masalah besar yang penting dalam lingkungan yang aman. Misalkan bunda bisa mencoba mendekatkan si kecil pada minuman panas. Izinkan mereka menyentuh sedikit (selama tidak membahayakan) agar mereka bisa belajar tentang konsekuensi.

Nah, apakah ada tanda-tanda yang mirip dengan pola asuh anak bunda? Kalau iya, simak tipsnya agar si kecil mandiri di tautan ini.