Pola Asuh Anak Untuk Si Kecil Yang Suka Berkata Kasar

Tidak ada orang tua yang senang anaknya berkata-kata kasar apalagi kotor. Bunda sudah memarahi dan menghukumnya, namun bunda kerap mendengar dia melakukannya bersama teman-temannya di belakang bunda. Kalau sudah begitu, bunda perlu mengkaji ulang pola asuh anak dalam hal ini. Coba simak ini ya bunda.

Anak-anak adalah pemerhati dan peniru yang baik. Mereka selalu memperhatikan kelakukan dan kata-kata yang diucapkan orang dewasa di sekitarnya. Salah satunya adalah ucapan yang dikeluarkan ketika mereka marah. Setiap intonasi ini menggelitik mereka dan akhirnya mereka pun mencoba praktekkan ke orang-orang di sekitarnya. Jadi pembelajar kata-kata kasar ini bukan selalu salah di cara mendidik orang tua.

Bunda perlu ketahui, ketika anak-anak menggunakan bahasa kasar, mereka tidak mengerti maknanya. Intonasi yang terdengar itulah yang membekas di pikiran mereka. Intonasi tersebut seperti memberikan sinyal elektrik ini mengganggu sistem emosi si kecil yang masih rapuh dan membekas di pikiran mereka. Jadi ketika si kecil merasa kesepian, terganggu atau marah, intonasi-intonasi yang terekam ini keluar seperti yang pernah di dengarnya. Kata-kata yang dikeluarkan ini sebenarnya bukan apa yang ingin dia lakukan, namun dia tidak bisa memikirkan cara lain dalam menyampaikan betapa tidak nyamannya kondisi mereka. Ketika mereka mengucapkan kata-kata ini, kadang ini adalah cara mereka meminta bantuan bunda untuk menolong kerapuhan mereka.

Marah dan menghukum tentu bukanlah cara yang tepat mengatasi kebiasaan ini. Cara mendidik anak yang kaku seperti meminta anak itu untuk berhenti mengucapkan kata-kata kasar dan memarahinya akan menimbulkan rasa takut dan amarah yang terpendam. Akibatnya, kecerdasan anak pun terganggu. Survey membuktikan, cara yang keras dan mengekang ekpresi anak ini hanya akan membuat si kecil kembali mengucapkan kata-kata yang sama. Selain itu, anak anak akan menggunakan kata-kata kasar itu di pikirannya, menambah amarahnya lalu menjadi bom waktu yang siap meledak bila sudah tidak tertahankan.

Cara lain yang tampaknya lebih “manusiawi” adalah memberikan si kecil penjelasan. Penjelasan akan membuat si kecil mengalihkan perhatian anak-anak untuk sementara waktu tetapi ketegangan emosi yang dia rasakan tidak terselesaikan. Padahal kata-kata kasar ini terjadi akibat ketegangan emosi yang dia rasakan.

Tentu kita tidak merekomendasi tindakan buruk ini diabaikan karena rasa simpati. Tindakan mereka terlalu menyakitkan untuk diabaikan dan mengganggu orang-orang dan lingkungan di sekitarnya. Respon yang benar perlu diberikan agar si kecil bertumbuh dengan baik tanpa harus mengekangnya.

Bagaimana memulainya?

Cara mendidik anak yang baik selalu dimulai dari bunda sendiri. Bunda akan kesulitan untuk fleksible bila bunda kesulitan untuk mengatasi sisi emosional bunda dan ucapan-ucapan yang keluar dari mulut bunda. Untuk mengatasi ini, bunda membutuhkan orang-orang yang bisa mendengarkanketika bunda mengungkapkan kekesalan bunda. Bunda tidak membutuhkan komentar, bunda lebih membutuhkan orang-orang yang mendengarkan sementara bunda mencari tahu penyebab sikap-sikap bunda.

Ketidakmampuan bunda mengelola emosi bisa digali dari masa kecil bunda. Apakah bunda dihukum karena berkata kasar? Kata-kata yang sering diucapkan orang tua bunda ketika mereka marah. Apakah bund amemiliki sejarah dengan kata-kata yang diucapkan si kecil sehingga bunda sangat terganggu dengan apa yang dia ucapkan? Setiap pertanyaan yang diajukan penting untuk bunda jawab. Bunda akan mengenang masa kecil bunda sehingga bisa membuat diri bunda menjadi pribadi yang lebih baik. Dan untuk semua kesalahan yang bunda pernah lakukan pada si kecil, tenang saja, si kecil akan tumbuh baik-baik saja.

Setelah bunda menyadari penyebab dan memperbaiki diri, bunda perlu mencari tahu cara mendidik anak yang benar. Sukses mendidik ya bunda.

 

Advertisements

Pola Asuh Anak Agar Dia Tidak Berkata Kasar

Kata-kata yang kasar tidaklah pernah enak didengar. Apalagi kata-kata itu keluar dari bibir si kecil. Bila bunda dan ayah sering mengucapkan kata-kata kasar, penyelesaian kata-kata kasar ini perlu dimulai dari kalian berdua. Untuk penjelasannya, bunda bisa membaca Cara Mendidikan Anak Yang Baik: Ketahui Alasan Si Kecil Berkata Kasar. Tetapi bila dalam diri keluarga tidak memiliki kebiasaan buruk tersebut, bunda bisa membaca pola asuh anak yang baik agar dia tidak berkata kasar ini.

Secara singkat, penyebab anak-anak berkata kasar adalah dia sedang memiliki masalah dalam dirinya. Baik dia kesepian, tertekan dan lain-lain. Namun dia tidak memiliki kemampuan ungkapin. Lebih buruknya, dia melihat orang-orang berkata kasar ketika emosi orang tersebut lagi naik. Akibatnya dia berpikir, berkata kasar ketika emosi buruk adalah cara untuk mendapatkan pertolongan dari orang tua.

Dalam pola asuh anak dalam keluarga yang baik, kita tentu tidak serta merta diam melihat tingkah laku mereka yang tidak layak ini. Bila tidak diatasi, bunda akan melihat dia ditolak oleh lingkungannya sendiri dan merusak sekitarnya. Lalu apa yang bunda bisa lakukan?

Observasi. Bunda perlu mengetahui kapan si kecil menggunakan kata-kata tersebut. Apakah sehabis dia pulang dari sekolah? Apakah ada situasi atau kondisi tertentu yang mendorongnya mengucapkan kata-kata kasar? Ketika saudaranya bermain dengan barang-barangnya? Ketika bunda sedang tidak memperhatikannya dalam jangka waktu tertentu? Mungkin si kecil sedang menghadapi transisi. Bunda perlu mencari tahu penyebab dia merasa kesepian dan tertekan hingga dia berkata kasar. Biasa kata-kata ini adalah jeritan dari kurang rasa percaya dirinya.

Lalu apa yang bunda bisa lakukan?

Gunakan “waktu spesial”

Waktu spesial ini adalah salah satu cara yang cukup ampuh untuk menghilangkan kebiasaan buruk anak. Contoh, si kecil akan mendapatkan waktu spesial 10 menit ketika kamu pulang bila dia berkata kasar pada hari itu. Atau dia mendapatkan waktu spesial 5 menit setiap dia mengatakan hal tersebut ke saudaranya.

Membatasi kebiasaan buruk si kecil dengan kehangatan dan rasa humor

Waktu spesial tidak akan menghapus kebiasan mengutakan kata-ata kasar tetapi sanggup mengurangi kebiasaan buruk si kecil. Sebagai orang tua dalam menerapkan pola asuh anak yang bagus, bunda tentu tidak boleh mengatakan kata-kata kasar untuk menjadi contoh bagi si kecil. Dan ketika dia mengucapkannya, bunda perlu menangani tingkah laku tersebut sedini mungkin. Bunda tidak perlu menjadi orang jahat. Bunda perlu mengubah cara berpikir kalau si kecil yang lembut dan menyenangkan ini sedang memiliki mood yang buruk. Untuk mengeluarkannya dari kondisi buruknya, bunda bisa:

Menggendongnya dan berkata, “saya mendengar kamu mengatakan kata-kata tersebut.” Dekaplah si kecil dan lihat apakah dia tertawa oleh tindakan kasih sayang bunda

Berkata, “siapapun yang berkata-kata jahat ini, aku akan menangkapnya.” Lalu kejarlah si kecil dan berusahalah agar dia tidak tertangkap secepat mungkin. Setelah menangkapnya, peluk dia dengan penuh kasih sayang.

Kenapa bunda perlu melakukan ini? Karena anak-anak sedang memberi sinyal kalau dia tidak bisa berpikir. Penggunaan kata-kata kasar ini memiliki makna, dia tidak bisa berkoneksi dengan siapapun di rumah ini. Pada saat-saat ini bermainlah dengan rasa humor, tertawa dan penuh kasih sayang tanpa menghukum. Biarkanlah si kecil merasakan kalau di rumah itu terasa menyenangkan.

Jangan kaget ya bunda kalau dia ingin bermain game seperti ini lagi dan lagi karena merasakan kesembuhan dari tawa dan kaih sayang yang bunda berikan. Dia sedang mencoba sembuh dari efek sikap buruk yang dia berikan dan mengganggu sistem emosinya.

Bersiap menjadi pendengar

Kalau bunda mendengar ada kesedihan dalam kata-kata kasarnya, bunda jangan meresponi dengan candaan. Bunda perlu memberikan tatapan mata yang memberikan sinyal kalau bunda mengerti apa yang dia rasakan. Perasaan-perasaan yang dia rasakan membuat dia ingin kabur, berkata kasar lebih banyak atau meninju. Bunda tetaplah berdiri dekat dia dan jagalah dia dari menyakiti orang lain. Bunda perlu terus dekat sama dia sehingga dia bisa merasakan keinginan untuk dekat dengan bunda. Dia membutuhkan pendengar.

Ketika dia siap, dia akan menceritakan rasa marah, bingung dan frustasinya. Dia akan menumpahkan segala amarahnya pada bunda. Tetapi tetaplah bunda mendengarkan dia untuk mengurangi tekanan emosi yang dia rasakan dibalik sikap buruknya. Sekalipun alasan dia marah adalah hal-hal yang remeh, janganlah tertawa dan tetap jadi pendengar yang baik.

Sekian info kami tentang Pola Asuh Anak Agar Dia Tidak Berkata Kasar. Untuk lebih lengkapnya, bunda bisa simak artikel Dancow. Semangat menjadi ibu yang lebih baik ya.

 

7 Tanda bunda memiliki pola asuh memanjakan anak

Setiap orang tua tentu ingin menerapkan pola asuh anak terbaik. Mereka berusaha menyediakan sandang, pangan dan pendidikan terbaik. Mereka juga memberikan waktu untuk mengawasi mereka melakukan peer, mengantar si kecil sekolah, memasak makanan terbaik untuk mereka dan seterusnya. Tindakan bunda mungkin didasari oleh rasa sayang yang besar terhadap anak. Namun pola asuh ini termasuk pola asuh memanjakan anak ini akan membuat si kecil tidak tumbuh menjadi anak yang mandiri dan percaya diri. Bagaimana cara mengenali pola asuh bunda terlalu memanjakan? Simak penjelasannya berikut ini.

  1. Bunda sering memuji si kecil berlebihan

Salah satu tanda bunda terlalu memanjakan si kecil adalah terlalu memanjakan. Kami semua setuju kalau anak-anak membutuhkan kata-kata penguatan, namun orang tua kadang suka berlebih dalam memberikannya. Pemberian pujian yang berlebihan itu sebenarnya hanya cocok untuk bayi atau batita di mana mereka kudu belajar sikap yang pantas dan tidak. Setiap pujian akan membantu mereka mendapatkan keahlian-keahlian yang baru. Namun semakin bertambah usianya dan mengerti apa yang perlu dilakukan bahkan ahli, bunda sudah tidak perlu terlalu memuji mereka.

  1. Bunda memberikan terlalu banyak hadiah berupa materi

Orang tua senang memberikan terlalu banyak barang-barang materi. Orang tua suka membelikan sesuatu yang baru kepada si kecil ketika mereka tidak menyukai pemberian mereka dan marah-marah. Bunda perlu menyadari tindakan seperti ini tidak akan mengajarkan si kecil arti “syukur”. Mereka perlu merasa cukup dan membedakan barang-barang yang mereka inginkn versus butuhkan. Sadarkah bunda kalau anak-anak zaman sekarang memiliki terlalu banyak barang di rumah dibanding zaman kita dulu dan kita tetap baik-baik saja. Dan anak-anak harusnya melakukan peer, sharing dengan keluarga dan bermain bersama teman-temannya.

  1. Ekspektasi bunda terlalu rendah

Semakin bertambahnya usia, si kecil biasanya makin sibuk dengan urusan sekolah, ekstrakulikuler, les dan masih banyak lagi. Orang tua biasanya ragu-ragu dalam memberikan tanggung jawab terhadap anak. Tetapi mengasuh anak seperti ini akan membahayakan si kecil. Orang tua yang memberikan ekspektasi terlalu rendah namun mengharapkan imbalan besar akan mengganggu si kecil ke depannya saat terjun ke masyarakat. Di mana dia akan dituntut memberikan lebih untuk menggapai impiannya.

  1. Memberikan terlalu sedikit tanggung jawab

Ekspektasi selalu terkait dengan meminta pertanggung jawaban dari mereka di usia yang tepat. Salah satu hal yang bisa bunda terapkan adalah kegiatan seputar dapur. Anak-anak biasanya mau membawakan piring makanannya ke bak cucian, mengatur meja makan, mengeluarkan sampah dan membantu masak. Bunda juga perlu mengajarkan mereka membersihkan berantakan. Awalnya kegiatan ini akan sangat memakan waktu, namun tenang saja bunda, pelatihan ini akan membantu bunda dan mereka di masa depan.

Meningkatkan tanggung jawab dalam mengasuh anak dan mengurangi melakukan segala sesuatu untuk mereka akan menjadi si kecil bertumbuh jadi anak mandiri, orang dewasa yang bertanggung jawab. Penting untuk cermati, ketika bunda mengajarkan anak tentang tanggung jawab, si kecil perlu mengerti kalau bunda melakukannya karena kalian tinggal bersama, berbagai tanggung jawab dan nikmatnya memiliki rumah sendiri.

  1. Bunda sering berulang-ulang

Seringkali bunda yang belum terbiasa memberikan pertanggung jawaban memiliki kecenderungan mengingatkan berulang-ulang tugas yang bunda berikan. Bunda perlu sadari, ketika si kecil sudah mengerti apa yang perlu dilakukan, dia akan melakukan ketika tepat pada waktunya bahkan ketika bunda lagi bepergian.

  1. Bunda membantu tanpa diminta

Setiap orang tua pasti selalu senang membantu anak-anaknya ketika diminta. Namun orang tua perlu menahan diri dalam menolong mereka hingga diminta. Seringkali kita melihat orang tua membantu anak-anak menyiapkan dan kadang membawakannya. Dan bila kebiasaan ini terus dilakukan, bunda akan melihat anak-anak kuliah yang tidak tahu apa yang dia mau. Namun bila bunda menghilangkan kebiasaan ini, anak-anak akan lebih memiliki keputusan dan membantu diri sendiri. Kadang mereka lebih kreatif dibanding orang tua.

  1. Mencegah si kecil melakukan kesalahan

Saat si kecil mengambil keputusan, mereka pasti akan membuat kesalahan. Melakukan kesalahan itu bukan masalah besar yang penting dalam lingkungan yang aman. Misalkan bunda bisa mencoba mendekatkan si kecil pada minuman panas. Izinkan mereka menyentuh sedikit (selama tidak membahayakan) agar mereka bisa belajar tentang konsekuensi.

Nah, apakah ada tanda-tanda yang mirip dengan pola asuh anak bunda? Kalau iya, simak tipsnya agar si kecil mandiri di tautan ini.

Hukum Vs. Disiplin dalam Pola Asuh Anak

Anak-anak pasti pernah nakal atau berbuat salah. Sekali dua kali, bunda masih sanggup bersabar. Namun pengulangan terus menerus pun membuat bunda agak emosional. Bunda pun menghukum si kecil dengan pukul. Apakah menghukum seperti ini termasuk pola asuh anak yang baik? Simak penjelasan berikut ini.

Bedakan hukuman dan disiplin

Hukuman bertujuan untuk mengajarkan kepada si kecil kalau mereka akan mendapatkan konsekuensi negatif bila mereka melanggar peraturan. Hukuman tidak selalu mengajarkan alasan peraturan diterapkan untuk pertama kalinya. Hukuman juga tidak mengajarkan kenapa peraturan ini penting atau bagaimana si kecil bisa bertindak sesuai dengan peraturan yang berlaku di rumah. Hukuman tidak mengajarkan ke si kecil akan tanggung jawab atau berempati akan pikiran, kebutuhan dan pengalaman yang dirasakan orang lain. Disiplin di lain pihak selalu memberikan sebuah pelajaran yang akan membantu si kecil mengerti sikap yang layak agar mereka bisa diterima di masyarakat. Pola asuh yang memasukkan disiplin kepada si kecil akan mengajarkan mereka bagaimana menjadi diri mereka yang lebih baik.

Efek dari hukuman

Hukuman yang sering diterapkan orang tua di zaman dahulu hanya akan efektif mengurangi sikap buruk anak ketika mereka diancami. Anak-anak akan takut kalau barang-barang mereka diambil, hak-hak mereka akan diambil, kegemaran mereka akan digunakan untuk melawan mereka, rasa aman mereka hilang dan karakter mreka. Anak-anak tidak perlu selalu memahami kenapa tindakan-tindakan atau sikap mereka salah atau tindakan mereka akan memberikan dampak negatif kepada yang lain. Di sisi lain, efek disiplin pada anak biasa menambahkan rasa tanggung jawab, percaya diri dan kemampuan untuk membedakan sikap dan tindakan yang pantas dari tidak pantas.

Cara mendidik anak lewat hukuman atau tindakan yang menyebabkan si kecil terasa sakit ketika berbuat salah memang sangat menggoda bagi orang tua. Apalagi hukuman ini akan membuat si kecil merasa “bersalah” atau “malu” sebagai respon dari kesalahan-kesalahan mereka. Namun hukuman tidak mengajarkan anak selain persetujuan ayah bunda untuk melukai orang lain. Seharusnya, orang tua haruslah berusaha mendisiplinkan anak agar mereka bisa membantu diri mereka menjadi pribadi yang lebih baik dan mengubah kondisi mereka. Disiplin yang tepat akan membuat si kecil tumbuh menjadi anak yang bahagia, sehat dan produktif tidak hanya di dalam keluarga namun juga lingkungan.

Cara mendisplinkan anak yang tepat:

  1. Menunggu. Si kecil bisa berbuat nakal kapan saja misalkan pulang telat melewati batas aturan waktu di rumah. Misalkan pulang tengah malam. Bunda jangan langsung marah tetapi tunggu sampai emosi bunda stabil. Tidur dan bicarakan kepada dia keesokan harinya.
  2. Bicarakan: Ketika bunda berbicara, duduklah bersama dan katakan sesuatu seperti “kamu tidak pulang tepat waktu seperti yang seharusnya. Ceritakan apa yang telah terjadi.” Anak-anak mungkin berkata, “temanku marah ketika aku mau pulang pagian.” Jangan langsung terima alasannya. Namun bunda bisa menanantntang jawabannya dengan, “bila temanmu marah, apakah hal ini berarti kamu boleh pulang lewat batas waktu yang telah ditentukan?”

  3. Tantang: Sementara bunda menantang pilihan si kecil yang salah, bunda bisa bertanya berbagai variasi pertanyaan seperti, “bagaimana kamu bisa mengambil tindakan berbeda?” Misalkan, “apa yang kamu akan lakukan bila temanmu marah ketika kamu hendak pulang tepat waktu?” Mereka mungkin jawab, “aku bisa mengabari bunda bila sesuatu telath terjadi.” Bunda bisa menjawab, “baiklah. Bila hal itu terjadi kembali, kabarin aku seperti yang kamu katakan dan bunda akan menjemputmu. Kamu tidak bisa melewati batas waktu yang telah ditetapkan. Jadi tanggung jawabmu adalah pulang tepat waktu.”

  4. Konsekuensi: Setelah berbicara dengan si kecil, ini adalah waktu paling tepat untuk memberikan konsekuensi kepada mereka. James Lehman merekomendasi kalau konsekuesi yang tepat berkaitan dengan tindakan salah yang dia lakukan agar dia bisa mengambil pilihan yang lebih baik. Setelah itu bunda bisa memberikan cara mendapatkan hak-haknya kembali. Contoh, “karena kamu telat pulang rumah maka kamu tidak bisa pergi bersama teman-teman minggu ini. Minggu depan, jam pulang akan dipercepat 30 menit hingga kamu bisa membuktikan kamu bisa pulang tepat waktu.” Ketika si kecil pulang tepat waktu, dia bisa kembali mendapatkan jam pulang sebelumnya. Konsekuensi ini akan membuat si kecil memiliki sikap yang bagus ketika dia mendapatkan kembali haknya.

Bunda sudah mengetahui bahaya hukuman dan bagaimana memiliki pola asuh anak yang baik dalam disiplinkan anak. Semoga bermanfaat informasinya.

 

Gagal Melakukan Pola Asuh Anak Yang Baik? Bunda Tidak Perlu Cemas

Setiap ibu ingin memberikan pola asuh anak yang baik pada anak-anaknya. Kasih sayang bunda pada si kecil ditunjukkan dengan memilih melakukan hal yang bunda tahu benar. Bunda memberikan makanan bernutrisi, mencari tahu cara menyembuhkan bayi yang sakit, memberikan sekolah terbaik dan merawat mereka tanpa mengharapkan imbalan. Sungguh mulia hati seorang ibu.

Namun sebaik-baiknya bunda, bunda bisa saja melakukan kesalahan dalam pengasuhan. Bunda mungkin tidak melakukan pola asuh demokratis atau protektif, Banyak faktor-faktor yang mempengaruhi pengasuhan dalam keluarga. Misalkan pengalaman masa kecil bunda, pendidikan, kepribadian, lingkungan dsb. Namun bunda tidak perlu merasa bersalah. Kadangkala akibat kesalahan tidaklah selalu seburuk yang bunda bayangkan. Inilah 10 alasan kenapa bunda tidak perlu cemas.

  1. Tidak ada manusia yang sempurna

Bunda perlu menghadapi fakta. Sekalipun bunda memiliki intensi yang paling suci, perencanaan pola asuh yang matang tetapi segala sesuatu bisa saja terjadi. Kita semua tahu tidak ada yang sempurna ketika berbicara perjalanan hidup. Dengan pengertian seperti ini, kenapa kita berasumsi kalau menjadi orang tua tidak akan salah?

  1. Orang tua lain juga melakukan kesalahan yang sama persis

Kesalahan yang pernah bunda lakukan, sadarilah, banyak orang tua juga melakukan kesalahan yang sama. Bunda tidak sendirian. Untuk lebih meyakinkan, bunda bisa mencari tahu di perkumpulan ibu-ibu atau mesin pencarian mengenai perasaan bunda.

  1. Berasumsi bunda tidak akan melakukan kesalahan hanya akan menimbulkan rasa bersalah ketika bunda melakukannya

Rasa bersalah itu nyata dan kejam. Jika bunda merasa bersalah atas sesuatu yang bunda pernah lakukan, hal itu akan berefek ke si kecil. Efek itu tidak bisa dihindari dan kami percaya rasa bersalah akan semakin meningkat ketika bunda meletakkan banyak ekspektasi terhadap diri sendiri. Santai bunda. Percayalah, bunda melakukan sesuatu yang luar biasa sekalipun bunda tidak merasa demikian.

  1. Membuat kesalahan tidak membuat bunda orang tua yang buruk, namun orang tua yang normal

Tahukah bunda, orang tua terburuk adalah orang tua yang mengabaikan anaknya. Orang tua yang menyiksa si kecil. Dan tahukah bunda apa yang tidak membuat bunda orang tua yang jahat? Membiarkan si kecil nonton film selama 6 jam karena bunda perlu membersihkan rumah atau kerja. Atau memesan junk food untuk makan malam. Atau melupakan kebutuhan mereka. Kalau bunda merasa bersalah akan semua ini, kabar gembira, bunda adalah orang tua yang keceh.

  1. Bagian dari kehidupan

Banyaknya faktor-faktor yang mempengaruhi pola asuh dalam keluarga meninggalkan cerita horor yang orang tua tidak percaya bisa terjadi. Seperti bunda lupa memasang seat belt si kecil ketika berkendara. Atau si kecil terjatuh dari tempat tidur ketika sedang mengganti popok dan bunda harus membawa ke UGD namun si kecil ternyata baik-baik saja. Nah bunda perlu sadar, tidak ada orang tua yang ingin anaknya mengalami kejadian seperti di atas namun si kecil berhasil bertahan hidup dan dalam kondisi baik-baik saja.

  1. Apa yang bunda lihat sebagai “kesalahan” bisa saja baik untuk si kecil

Bunda mungkin sering memberikan makanan dari warung atau apapun yang tinggal dilahap. Awalnya bunda mungkin merasa bersalah, tetapi kenyataannya bisa jadi cara ini mempermudah si kecil yang suka milih-milih makanan untuk suka makan. Memang tidak ideal dan tidak semua keluarga cocok dengan ide seperti ini, namun bunda tidak perlu stress memasak untuk si kecil terus menerus.

  1. “Hal baik bagi si kecil” bisa jadi adalah sebuah kesalahan

Kadangkala kita tanpa sengaja mengabaikan ketertarikan si kecil dengan alasan tidak ingin membebaninya atau belum waktunya. Namun pengabaiannya itu ternyata membuat dia telat berrkembang. Andai saja… Ok. Hentikan berandai.

  1. Buang-buang waktu

Cemas setelah melakukan kesalahan sangat membuang waktu padahal bunda perlu menggunakan waktu untuk mengasuh anak dengan baik.

  1. Anak-anakmu mungkin tidak ingat

Bunda mungkin stress mengingat kesalahan yang bunda lakukan. Namun si kecil kadang kala sudah tidak mengingatnya. Bunda menganalisa segala kesalahan yang bunda telah lakukan. Si kecil hanya hidup bebas dari segala beban kesalahan dia yang bikin bunda marah, dan memiliki hidup yang menyenangkan.

  1. Bila bunda merasa bersalah berarti bunda itu ibu yang baik

Bila bunda merasa bersalah atas kegagalan melakukan pola asuh anak yang baik, bunda, bunda sudah menjadi orang tua yang baik. Hal ini berarti bunda peduli dan selalu ingin membuat diri bunda menjadi lebih baik. Jadi semangat ya bunda dalam mengasuh si kecil.

Pola Asuh Anak Yang Baik Wajib Bunda Ketahui

Setiap orang tentu ingin yang terbaik bagi anak-anaknya. Mereka pun terus menerus belajar tentang pola asuh anak yang baik. Baik dari bertanya ke orang tua atau mertua, mengikuti seminar, membaca buku dan masih banyak lagi. Apalah artinya kesusahan belajar ini bila bunda bisa melihat pertumbuhan si kecil berjalan dengan baik. Mari kita mempelajari lebih yuk pola asuh anak yang bunda bisa praktekkan.

Faktor Faktor Yang Mempengaruhi Pola Asuh Anak Usia Dini

  1. Kepribadian

Setiap anak memiliki kepribadian yang unik. Saat mengasuh anak, orang tua perlu mengenal si kecil dan mengerti cara mengkomunikasikan dengan tepat sesuai dengan usia dan kemampuan mencerna si kecil. Hubungan yang baik juga memberi menambah kesuburan dalam memberikan arahan ke si kecil. Apabila si kecil tampak tidak berminat dengan arahan orang tua, mungkin bisa karena mereka tidak mengerti dan bisa jadi cara penyampaian yang terlalu keras.

  1. Pengalaman Orang Tua

Pepatah mengatakan “buah jatuh tidak jauh dari pohonnya” dan pernyataan ini tidak luput terhadap pola asuh. Mungkin bunda bisa menelusuri kembali pola asuh orang tua bunda karena biasanya tanpa sadar bunda akan mengikuti pola asuh mereka. Buatlah daftar hal yang baik dan kurang tepat dari pola asuh orang tua, serta tidak lupa untuk mengingatkan diri sendiri bila tindakan buruk yang sama hampir terulang.

  1. Pendidikan

Pengalaman bisa dikalahkan dengan pendidikan. Pendidikan artinya informasi yang didapat oleh orang tua dengan sengaja agar dia bisa mengubah cara berpikir. Hasil dari cara berpikir akan mengubah pola asuh orang tua terhadap si kecil. Baik dari segi pendekatan, perawatan dan masih banyak lagi. Good job buat bunda yang terus menerus belajar!

  1. Nilai-nilai agama

Semakin taqwa orang tua, nilai-nilai agama pun menjadi pengaruh yang sangat besar dalam hidup mereka. Agama tentu saja penting karena agama mengajarkan hal-hal yang baik untuk dilakukan si kecil dalam meresponi sekitarnya seperti kebajikan, sopan dan juga toleransi. Jadi tidak ada salahnya bunda memperdalam ilmu agama untuk dipraktekkan dan mengajar ke si kecil.

  1. Jumlah Anak

Banyaknya anak yang dimiliki bunda akan mempengaruhi perhatian bunda ke mereka. Kadangkala bunda juga bisa bersikap tidak adil antara anak yang satu dengan anak yang lain sehingga pola asuh bunda tidak lagi konsisten. Jadi dua anak cukup ya bunda.

Faktor-faktor yang mempengaruhi pola asuh anak usia dini tentu akan menghasil berbagai pola asuh seperti contoh di bawah ini:

  1. Pola asuh otoriter

Pola asuh otoriter adalah pola asuh dimana perintah orang tua adalah segalanya. Bunda biasanya sangat disiplin dan tidak menolerir kesalahan si kecil. Bunda juga tidak mendengarkan alasan-alasan yang si kecil kemukakan. Anak-anak yang dibesarkan dengan pola asuh ini cenderung depresi.

  1. Pola asuh permisif

Bila bunda terlalu sering meng-iya kan segala keinginan si kecil, bunda mungkin termasuk di dalam pola asuh permisif. Tidak ada salahnya bunda menyetujui keinginan si kecil, namun bila keinginan itu tidak baik, bunda kudu tegas. Sekalipun si kecil pada awalnya bakal teriak-teriak dan nangis-nangis di depan umum. Soalnya kalau dibiarkan, si kecil akan menjadi pribadi yang liar dan tidak menghormati orang tua dan aturan. “Peraturan tidak diciptakan untuk dilawan loh.”

  1. Pola asuh overprotektif

Bunda yang sering melarang anak eksplorasi dengan alasan takut termasuk dalam pola asuh overprotektif. Bunda tidak ingin membiarkan si kecil mengalami sakit, luka dan bahkan ikut campur ketika si kecil mengalami masalah dengan teman sebayanya. Pola asuh ini akan menyebabkan si kecil tidak produktif dan berkeinginan mencapai sesuatu.

  1. Pola asuh otoritatif / demokrasi

Pola asuh anak yang baik ini adalah pola asuh yang memberikan kesempatan kepada anak untuk eksplorasi dengan pengawasan dan batasan-batasan yang jelas. Hubungan orang tua juga baik karena orang tua selalu bersikap mau mendengarkan ide dan pendapat sekalipun keputusan terakhir di tangan orang tua seusai diskusi.

Inilah Alasan Bahaya Pola Didik Protektif Berlebihan

Anak adalah titipin Yang Maha Kuasa jadi rasanya wajar saja kalau si kecil dilindungi. Namun kalau bunda menerapkan pola didik protektif yang berlebihan, malah bisa jadi bumerang loh buat bunda dan masa depan si kecil. Biar tambah ngerti bahayanya, mari simak penjelasan lebih lanjut ya bunda.

Pola asuh anak yang baik harusnya tidak melarang si kecil melakukan sesuatu karena rasa takut. Misalkan bunda tidak ingin si kecil bermain di tanah karena takut kotor dan sakit. Bunda tidak mau si kecil main sepeda karena takut jatuh. Bunda tidak mau si kecil berenang karena si kecil pernah nyaris tenggelam. Bunda juga sering menyelesaikan masalah buat si kecil. Rasa takut dan cemas yang berlebihan ini perlu bunda sadari apakah ada pada diri bunda. Bunda bisa menanyakan ke pasangan, kerabat atau sahabat untuk membantu memantau bunda.

Bahaya anak yang dilindungi berlebihan:

  1. Dia menjadi anak yang penakut dan tidak percaya diri

Anak menjadi takut karena melihat respon orangnya yang takut. Keterlibatan orang tua di dalam setiap kegiatan yang dilakukan si kecil membuat dia hanya bayang-bayang orang tua. Akibat dia takut melakukan sesuatu tanpa orang tuanya. Lebih buruk lagi, pola asuh seperti ini berdampak terus hingga anak beranjak dewasa. Dia jadi tidak percaya diri, takut mengambil risiko dan tidak memiliki inisiatif. Bunda bisa melihat betapa tidak nyamannya ketika bunda bertemu orang seperti ini di tim kerja bunda dan mempengaruhi kinerja bunda.

  1. Tidak bisa menyelesaikannya sendiri

Pola didik protektif menurut Lauren Feiden seorang psikolog spesialis bidang hubungan orang tua dan anak menyatakan pola didik ini adalah suatu masalah yang dapat membuat si kecil ketergantungan dan tidak berani menghadapi masalah yang dibuatnya sendiri. Hal ini terjadi orang tua terlalu banyak ikut campur dalam setiap tantangan dan si kecil tidak diberi kesempatan untuk berpikir dan mencari jalan keluar sendiri. Akibatnya dia akan malas berpikir dan selalu bergantung pada orang lain atau pihak otoritas untuk menyelesaikan masalah dia. Berabe juga yak kalau kebawa hingga dewasa.

  1. Gampang berbohong

Terlalu banyak kekangan akan mendorong si kecil untuk berbohong dan membangkang diam-diam. Orang tua yang kurang realistis tidak memberikan ruang gerak bagi si kecil untuk mengembangkan diri. Dan bila si kecil melakukan kesalahan atau melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan orang tua, maka dia akan memilih berbohong untuk menghindari hukuman.

  1. Stress dan mudah cemas

Tingkatan stress dan cemas semakin tinggi dewasa ini. Selain lingkungan, salah satu faktor penyebabnya adalah pola didik anak di mana orang tua secara berlebihan melakukan pengawasan terhadap kegiatan akademis maupun non akademis anak. Sekalipun si kecil tidak melakukan kesalahan, namun pengawasan yang ketat bisa menyebabkan si kecil merasa cemas dan takut melakukan kesalahan.

Lalu bagaimana cara mengatasinya? Bunda perlu memberikan batasan dan juga kebebasan kepada si kecil dengan seimbang.

  1. Dia bisa diminta untuk pergi ke sekolah sendiri baik dengan transportasi umum ataupun jalan kaki (tergantung jarak). Bunda bisa mengikutinya untuk seminggu pertama.
  2. Bunda mengajak si kecil berpikir namun tidak memberikan jawaban ketika si kecil sedang dalam masalah. Sekalipun jawabannya lambat, bunda perlu bersabar
  3. Bunda perlu menjelaskan kalau kegagalan adalah hal yang wajar, dihadapi dan dijadikan pembelajaran untuk kemudian hari
  4. Membangun komunikasi yang baik dengan mendengarkan cerita anak
  5. Mendorong si kecil melakukan hal-hal positif yang disukai dan mengembangkan potensinya
  6. Bersikap tegas ketika si kecil melewati batas-batas yang sudah ditetapkan
  7. Yang terpenting adalah percayalah pada anak. Anak yang dipercaya justru semakin percaya diri dalam mengambil keputusan
  8. Memberikan rasa aman kepada anak agar dia bisa bercerita atau meminta nasehat kepada bunda

Ketika bunda mengubah pola didik protektif bunda dan melakukan ke 8 poin di atas, niscaya perubahan cepat atau lambat akan terjadi pada si kecil.